Selasa, 19 September 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / / Berita

LOKAKARYA
Kamis, 20 April 2017 17:05 WIB

LIA Genjot Infrastruktur Dan Produksi Kargo


GM LIA tengah memaparkan kinerja bandara yang dipimpinnya. (Photo:BN/Syam)

Bisnisnews.id - Kendati belum ada pertumbuhan yang signifikan, namun Lombok Internasional Airport (LIA)  melakukan pembenahan untuk mengakomodir seluruh kegiatan perdagangan terkait potensi lokal.

General Manager Angkasa Pura 1 LIA,  I Gusti Ngurah Ardita mengatakan, sekarang ini pertumbuhannya masih rendah. Namun tetap harus dikembangkan, karena komoditi lokal cukup bagus.

Terutama hasil pertanian yang sekarang ini juga banyak dikirim ke luar Lombok." Produksinya sih belum besar, masih kecil tapi untuk domestik bagus. Komoditi didominasi hasil pertanian," jelas Ardita.

"Penerbangan internasionalnya juga belum banyak, hanya ada 1 yaitu AirAsia. Demikian juga kargo ekspor impor," Ardita mengatakan.

Sebelumnya sempat ada JetStar terbang ke Lombok. Sekarang ini kata Ardita, JetStar tidak lagi melayani penerbangan dari Lombok dan akan ada penerbangan lain yang melayani ke regional.

BACA JUGA : Menhub Ajak Kalangan Swasta Bergerak Lebih Dominan Pada Kegiatan Logistik

INDUSTRI WISATA

Soal industri wisata, kata Ardita, terus dikembangkan dengan menyesuaikan destinasi wisata yang ada di Lombok.  Pembenahanannya dimulai dari terminal keberangkatan dan kedatangan.

"Kita sudah siapkan ornamen pantai Senggigi, Gili Trawangan, Mandalika dan seterusnya," kata Ardita

Sekarang, ungkapnya,  setiap penumpang  yang datang meluangkan waktu untuk selfi di arena yang sudah kami siapkan. "Sebelum mereka ke pantai atau objek wisata lainnya, sudah selfi dan fotonya beredar di media sosial. Ini kan baik buat kami, ada unsur marketingnya," kata Ardita menjawab pertanyaan wartawan pada Lokakarya bertajuk "Menciptakan Angkutan Antarpulau yang Terkoneksi dengan Angkutan Antarmoda serta Berkeadilan" 20-22 April 2017 di Lombok NTB.

Terkait pengembangan bandara, Ardita mengatakan, AP I membuat skala prioritas dengan prinsip efektif dan efisien. Diantaranya membangun terminal atau apron, dan ini sesuai dengan peningkatan kebutuhan. LIA makin banyak diterbangi pesawat ukuran besar yang membawa banyak penumpang.

" Memang ada usulan agar runway diperpanjang, tetapi perhitungan kita kalau itu dilakukan akan mengundang pesawat jarak jauh dan pesawat besar, tetapi bagaimana dengan terminal dan apron, apakah bisa mengakomodasi kebutuhan untuk itu jika tidak disiapkan dengan baik dan refresentatif," katanya.

Jadi pada dasarnya, AP I menganut azas efisien dan efektif bahwa kalau runway yang dibangun duluan menjadi tidak efektif jika terminal dan apron tidak disiapkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, kata Ardita, pihaknya telah merencanakan membangun terminal dan apron yang diharapkan akhir tahun ini sudah dapat dioperasikan.

Menurut Ardita, saat ini sedang dilakukan pembangunan dua parking stand baru dan ini menjadi salah satu kesiapan bandara menyambut kedatangan pesawat-pesawat dari maskapai internasional untuk singgah di Lombok. Itu sebabnya, jika diperpanjang runway dulu akan mubazir.

"Kami fokus parking stand dan terminal dulu. Untuk terminal domestik sudah kelihatan penuh. Nah kita ingin fungsikan adanya dua parking stand untuk untuk terminal internasional nantinya,"jelasnya.

Begitu juga dalam membangun terminal dihitung berdasarkan peningkatan jumlah penumpang. Prinsip-prinsip inilah yang menjadikan LIA yang tadinya merugi, dan kini mulai mengeruk keuntungan.

"Tahun 2015, kita mengalami kerugian Rp 23 miliar, tapi mulai 2016 secara operasional kita sudah untung, kata Ardita.

Pembangunan infrastruktur LIA juga sejalan dengan ditetapkannya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang nantinya akan banyak wisatawan yang datang.

Sejumlah proyek pembangunan didanai secara multiyear, sehingga pembangunan khususnya sarana pendukung akan berlangsung trrus menerus. "Tapi sebagian besar pembangunan infrastruktur pendukung bandara selesai tahun ini," katanya. (Syam S)

Baca Juga

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
SIDANG PBB 72
Buka Sidang, Sekjen PBB Angkat Isu Korut Dan Myanmar

Bisnisnews.id - Kecemasan global tentang perang nuklir berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada hari Selasa 19 September saat ia membuka pertemuan para pemimpin . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
PERANG RUDAL
Jepang Sebar Pencegat Rudal Di Jalur Peluncuran Korut

Bisnisnews.id - Jepang pada hari Selasa 19 September memindahkan sistem pertahanan rudal di pulau utara Hokkaido ke sebuah pangkalan dekat rute peluncuran rudal Korea Utara terakhir. Menteri Pertahanan Itsunori Onodera mengatakan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
INVESTASI ASING
Uni Eropa Peringatkan China : Ekonomi Terbuka Atau Tanggung Resiko

Bisnisnews.id - Kelompok bisnis mendesak China pada hari Selasa 19 September untuk melaksanakan janji-janji keterbukaan ekonominya dan memperingatkan bahwa pergerakan lamban dapat memicu reaksi balik terhadap perdagangan bebas . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
KRISIS ROHINGYA
Penyelidik PBB Tuntut Akses Penuh Tanpa Batas ke Myanmar

Bisnisnews.id - Penyelidik HAM PBB pada hari Selasa 19 September mengatakan bahwa mereka membutuhkan akses penuh dan tak terbatas ke Myanmar untuk menyelidiki krisis yang sedang berlangsung, namun pemerintah menolak penyelidikan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
KRISIS ROHINGYA
Akhirnya Angkat Bicara, Suu Kyi Tolak Kritik Dunia

Bisnisnews.id - Aung San Suu Kyi mengatakan pada hari Selasa 19 September bahwa dia tidak takut pada pengawasan dunia atas krisis Rohingya, berjanji untuk menahan pelanggar HAM dan memukimkan kembali beberapa dari 410 ribu Muslim . . .
Selengkapnya