Selasa, 19 September 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Penerbangan / Berita

BISNIS PENERBANGAN
Kamis, 20 April 2017 17:27 WIB

Salahkan Kebijakan AS, Emirates Pangkas Rute


Emirates pangkas banyak penerbangan ke AS. (Photo:tis meyer/planepics.org)

Bisnisnews.id - Emirates mengumumkan akan mengurangi penerbangan menjadi 5 dari 12 destinasi AS yang ada sebelumnya pada awal bulan depan.

Maskapai yang berbasis di Dubai tersebut menyalahkan penyebab penurunan permintaan adalah langkah-langkah keamanan AS yang lebih ketat dan melarang pelancong dari beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim. Ini adalah pertanda terkuat bahwa peraturan baru tersebut dapat berdampak finansial pada Emirates yang telah berkembang pesat di Amerika Serikat.

Pemangkasan tersebut akan mengurangi jumlah penerbangan yang dikirim AS dari Dubai ke 101, dari 126 saat ini. Penerbangan Emirates dua kali sehari ke Los Angeles, Boston dan Seattle akan dikurangi menjadi sekali sehari. Penerbangan harian ke Fort Lauderdale dan Orlando akan dipangkas sampai lima per minggu.

Kemitraan untuk Open & Fair Skies membuat pernyataan hari ini tentang rencana Emirates memangkas penerbangan ke AS.

"Faktanya adalah, permintaan pasar tidak pernah memainkan peran saat maskapai menentukan destinasi penerbangan. Operator teluk, termasuk Emirates, kehilangan uang untuk sebagian besar penerbangan mereka ke AS dan disangga miliaran dolar oleh pemerintah mereka, "kata Jill Zuckman, juru bicara Kemitraan Open & Fair Skies.

Seperti dikutipn dari Aviation Tribune, ia berpendapat, "Model bisnis mereka didasarkan pada pertumbuhan jaringan tanpa memperhatikan profitabilitas untuk melayani tujuan pemerintah mereka yaitu mendominasi penerbangan global. Contoh sempurna adalah rute terakhir Emirates antara Athena, Yunani dan Newark, N.J., sebuah penerbangan yang kehilangan banyak uang yang mungkin terjadi karena subsidi pemerintah. Bahwa Emirates menyebut dirinya berorientasi pada keuntungan sangat menggelikan."

Kemitraan untuk Open & Fair Skies: American Airlines, Delta Air Lines and United Airlines, bersama dengan Asosiasi Air Line Pilots, Asosiasi Allied Pilots, Asosiasi Southwest Airlines Pilots, Asosiasi Professional Flight Attendants, Asosiasi Flight Attendants-CWA, Pekerja Komunikasi Amerika, and Divisi Airline International Brotherhood Teamsters. (Marloft)

Baca Juga

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
SIDANG PBB 72
Buka Sidang, Sekjen PBB Angkat Isu Korut Dan Myanmar

Bisnisnews.id - Kecemasan global tentang perang nuklir berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada hari Selasa 19 September saat ia membuka pertemuan para pemimpin . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
PERANG RUDAL
Jepang Sebar Pencegat Rudal Di Jalur Peluncuran Korut

Bisnisnews.id - Jepang pada hari Selasa 19 September memindahkan sistem pertahanan rudal di pulau utara Hokkaido ke sebuah pangkalan dekat rute peluncuran rudal Korea Utara terakhir. Menteri Pertahanan Itsunori Onodera mengatakan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
INVESTASI ASING
Uni Eropa Peringatkan China : Ekonomi Terbuka Atau Tanggung Resiko

Bisnisnews.id - Kelompok bisnis mendesak China pada hari Selasa 19 September untuk melaksanakan janji-janji keterbukaan ekonominya dan memperingatkan bahwa pergerakan lamban dapat memicu reaksi balik terhadap perdagangan bebas . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
KRISIS ROHINGYA
Penyelidik PBB Tuntut Akses Penuh Tanpa Batas ke Myanmar

Bisnisnews.id - Penyelidik HAM PBB pada hari Selasa 19 September mengatakan bahwa mereka membutuhkan akses penuh dan tak terbatas ke Myanmar untuk menyelidiki krisis yang sedang berlangsung, namun pemerintah menolak penyelidikan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
KRISIS ROHINGYA
Akhirnya Angkat Bicara, Suu Kyi Tolak Kritik Dunia

Bisnisnews.id - Aung San Suu Kyi mengatakan pada hari Selasa 19 September bahwa dia tidak takut pada pengawasan dunia atas krisis Rohingya, berjanji untuk menahan pelanggar HAM dan memukimkan kembali beberapa dari 410 ribu Muslim . . .
Selengkapnya