Sabtu, 25 November 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Penerbangan / Berita

BISNIS PENERBANGAN
Kamis, 20 April 2017 17:27 WIB

Salahkan Kebijakan AS, Emirates Pangkas Rute


Emirates pangkas banyak penerbangan ke AS. (Photo:tis meyer/planepics.org)

Bisnisnews.id - Emirates mengumumkan akan mengurangi penerbangan menjadi 5 dari 12 destinasi AS yang ada sebelumnya pada awal bulan depan.

Maskapai yang berbasis di Dubai tersebut menyalahkan penyebab penurunan permintaan adalah langkah-langkah keamanan AS yang lebih ketat dan melarang pelancong dari beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim. Ini adalah pertanda terkuat bahwa peraturan baru tersebut dapat berdampak finansial pada Emirates yang telah berkembang pesat di Amerika Serikat.

Pemangkasan tersebut akan mengurangi jumlah penerbangan yang dikirim AS dari Dubai ke 101, dari 126 saat ini. Penerbangan Emirates dua kali sehari ke Los Angeles, Boston dan Seattle akan dikurangi menjadi sekali sehari. Penerbangan harian ke Fort Lauderdale dan Orlando akan dipangkas sampai lima per minggu.

Kemitraan untuk Open & Fair Skies membuat pernyataan hari ini tentang rencana Emirates memangkas penerbangan ke AS.

"Faktanya adalah, permintaan pasar tidak pernah memainkan peran saat maskapai menentukan destinasi penerbangan. Operator teluk, termasuk Emirates, kehilangan uang untuk sebagian besar penerbangan mereka ke AS dan disangga miliaran dolar oleh pemerintah mereka, "kata Jill Zuckman, juru bicara Kemitraan Open & Fair Skies.

Seperti dikutipn dari Aviation Tribune, ia berpendapat, "Model bisnis mereka didasarkan pada pertumbuhan jaringan tanpa memperhatikan profitabilitas untuk melayani tujuan pemerintah mereka yaitu mendominasi penerbangan global. Contoh sempurna adalah rute terakhir Emirates antara Athena, Yunani dan Newark, N.J., sebuah penerbangan yang kehilangan banyak uang yang mungkin terjadi karena subsidi pemerintah. Bahwa Emirates menyebut dirinya berorientasi pada keuntungan sangat menggelikan."

Kemitraan untuk Open & Fair Skies: American Airlines, Delta Air Lines and United Airlines, bersama dengan Asosiasi Air Line Pilots, Asosiasi Allied Pilots, Asosiasi Southwest Airlines Pilots, Asosiasi Professional Flight Attendants, Asosiasi Flight Attendants-CWA, Pekerja Komunikasi Amerika, and Divisi Airline International Brotherhood Teamsters. (Marloft)

Baca Juga

 

Internasional  -  Sabtu, 25 November 2017
SAUDI VS IRAN
Putra Mahkota Saudi Juluki Pemimpin Iran 'Hitler Baru'

Bisnisnews.id - Pangeran mahkota Arab Saudi telah memanggil pemimpin tertinggi Iran sebagai Hitler Timur baru, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Menyinggung kekuatan regional yang berkembang di Iran, Mohammed . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Sabtu, 25 November 2017
BREXIT
Uni Eropa Beri Inggris Waktu 10 Hari Selesaikan 3 Perkara

Bisnisnews.id - Presiden Uni Eropa Donald Tusk mengatakan pada hari Jumat 25 November bahwa kesepakatan Brexit pada bulan Desember mungkin saja terjadi tapi menjadi tantangan besar dan memberi Theresa May 10 hari untuk bertindak. Tusk . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Sabtu, 25 November 2017
KTT BRUSSELS
Musuhan Dengan Rusia, UE Pengaruhi Enam Negara Bekas Soviet

Bisnisnews.id - Uni Eropa berjanji untuk memperdalam hubungan dengan enam negara bekas Uni Soviet pada hari Jumat 25 November, sebagai upaya melawan pengaruh Rusia, namun memperingatkan mereka bahwa negara-negara tersebut tidak . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Sabtu, 25 November 2017
TERORIS
Serangan Masjid Di Sinai Mesir Bunuh 235 orang

Bisnisnews.id - Penyerang bersenjata pada hari Jumat 25 November membunuh setidaknya 235 jamaah dalam serangan bom dan senjata di sebuah masjid di provinsi Sinai Utara. Sebuah ledakan bom menghancurkan masjid Rawda kira-kira 40 . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Jumat, 24 November 2017
ZIMBABWE
Mnangagwa Dilantik Sebagai Presiden

Bisnisnews.id - Emmerson Mnangagwa dilantik sebagai presiden Zimbabwe setelah sebelumnya dipecat oleh pemimpin yang digulingkan Robert Mugabe. Emmerson Mnangagwa dilantik sebagai presiden Zimbabwe pada hari Jumat 24 November, . . .
Selengkapnya