Minggu, 18 Februari 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Penerbangan / Berita

OPINI PUBLIK
Minggu, 30 April 2017 09:27 WIB

Terus Merugi dan Tidak Pernah Kasih Deviden, Ada Apa Dengan-mu Garuda ......


Garuda Indonesia Airways di terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta (Foto: BN/Syam S)

Direktur AIAC, Arista Atmadjati mengatakan, "kalau Garuda Indonesia terus merugi, bukan hal yang aneh, sebab dari tahun 2011 tidak pernah memberikan deviden. Sahamnya pun sejak dilepas pertama kali bukannya meningkat malah merosot. Saya adalah pemilik 20 ribu lembar saham, sangat merindukan Garuda untung ...." 


Bisnisnews.id-Biaya bahan bakar yang tinggi dan rendahnya yield penumpang, menjadi alasan direksi Garuda Indonesia atas kerugian pada triwulan pertama tahun 2017 sebesar 99,1 juta dollar AS. Padahal maskapai penerbangan nasional Indonesia ini termasuk airlines terbaik di dunia, karena konsisten meraih penghargaan di industri penerbangan. Seperti: "Awak Kabin Maspakai Terbaik" dari Skytrax World Airline Awards dalam tiga tahun berturut-turut serta penghargaan "Maskapai Penerbangan Paling Dicintai" untuk kategori kepuasan konsumen. 

Terakhir ditambah penghargaan "Maskapai Penerbangan Paling Baik" dari Airlineratings.com, situs rating produk dan keamanan maskapai penerbangan dunia. Sayangnya, meski meraih banyak penghargaan, maskapai penerbangan Garuda Indonesia, menghadapi kendala dalam pencapaian revenue dan jumlah penumpangnya. Pada semester 1 tahun 2016 malah merugi Rp800 miliar. 

Analis penerbangan, Arista Atmadjati, yang juga pendiri Arista Indonesia Aviation Center (AIAC Aviation) dalam tulisan opini-nya kepada Bisnisnews.id  menyebutkan, tidak ada korelasi antara banyaknya penghargaan dengan pendapatan.

Headlines semua media cetak pada 1 Agustus 2016 menulis bahwa semester I 2016 Garuda Indonesia catatkan kerugian Rp821 Miliar. Seperti adegan ulangan, triwulan 1 tahun 2017 ini, kembali laporan keuangan maskapai Garuda merugi 99,1 juta dolar, ekuivalen 1 miliar lebih. 

Memang trend bisnis penerbangan di Indonesia pada semester triwulan 1 dan 2 masih memasuki low season. "Namun kerugian lebih dari 1 miliar pada triwulan 1, belum lagi nanti triwulan 2, jika tidak membaik maka kinerja maskapai pelat merah ini memasuki alarm kuning," kata Arista, Minggu (30/4/2017) saat menyikapi laporan keuangan Garuda Indonesia.

Arista, yang juga pemilik 20 ribu lembar saham Garuda Indonesia ini mengatakan, faktor penyebab kerugian terkesan seperti diulang-ulang. Yakni, menyalahkan faktor biaya/cost membengkak dan kenaikan harga avtur. 

Selain biaya bahan bakar lebih tinggi, Garuda juga mengemukakan alasan tentang persaingan ketat. Dalam pers conference 28 April 2017, Pahala Mansury, CEO Garuda mengatakan, yield penumpang turun walau jumlah penumpang meningkat.

Bila kita melihat maskapai negara tetangga, misal Qantas Grup, tahun 2016 bisa meraup keuntungan 8,7 triliun sebelum pajak. Demikian juga Cathay Pacific Hongkong juga untung besar di 2016. Jadi alasan avtur naik dan biaya internal tinggi sudah seperti kaset usang. 

Garuda seperti tidak menyadari pasar domestik mereka hanya sebagai tulang punggung, sudah bukan sebagai market leader lagi. Lion Grup sudah menguasai 55 persen market domestik, jadi 45 persen kue domestik dibagi antara Garuda Grup, Sriwijaya, Air Asia Indonesia, Express Air dan lainnya. 

Pembukaan rute Garuda ke kota-kota kabupaten, seperti ke Langgur, Mamuju, Kolaka, Baubau, Nias, Sabang, Lhoksumawe dengan menggunakan aircraft ATR dan CRJ 1000 kurang pas dengan konsep maskapai full service. 

Rute-rute kabupaten awalnya didesain untuk anak Garuda, yaitu Citilik. Namun rupanya Citilink tidak sanggup. Malah akhirnya Citilink melayani rute beradu 'head to head' dengan induknya Garuda Indonesia. 

Maka disinyalir terjadi perpindahan penumpang Garuda ke Citilink, apalagi sebagian rute Citilink ada di bandara Halim Perdanakusuma. Lebih nyaman bagi penumpang dari Jakarta Timur, Bogor, Bekasi.

Rute-rute Garuda ke luar negeri mayoritas merugi juga karena semua cost menggunakan mata uang dollar AS.  Untuk rute luar negeri, Garuda Indonesia belum menjadi 'preferred airlines' dan kalah bersaing dengan Emirates, Qatar, Etihad, Singapore Airlines, Cathay Pacific. 

Belum lagi, rute jarak jauh Garuda Indonesia ke Amsterdam dan London juga mengkhawatirkan. Ibaratya, menggerus kantong pendapatan sendiri yang sudah bertahun-tahun merugi. 

Ancaman lain juga datang dari Batik Air dengan konsep full service, namun selisih harga bisa 30 persen dari harga Garuda. Batik Air meggerogoti dengan 42 armada Boeing 737-900ER dan melayani penerbangan ke 33 destinasi domestik (di luar 3 destinasi Internasional) dengan 220 jadwal penerbangan setiap harinya. 

HARGA SAHAM

Indikator harga saham Garuda setelah IPO Februari 2011, sampai dengan saat ini harganya tereduksi sampai dengan 50 persen. Harga perdana saham GIAA Rp750 dan saat ini harga saham GIAA hanya berkisar Rp380. Dan yang mengenaskan, sejak IPO 2011, Garuda belum sekalipun membagi deviden.

Garuda Indonesia juga harus membenahi faktor internal, dimana banyak terjadi inefisiensi. Secara keseluruhan, organisasi Garuda Indonesia terlalu besar. Tentunya memakan biaya yang tidak sedikit dan menyebabkan inefisiensi. Ini nampak nyata dengan adanya direktorat baru dengan kehadiran direktur kargo. 

Pertanyaannya adalah mengapa harus ada Direktur Kargo sementara Garuda sendiri sampai saat ini tidak mempunyai pesawat freighter khusus pengangkut barang. Selama Garuda tidak punya pesawat jenis freighter, maka pendapatan yang diharapkan dari bisnis kargo bakalan tidak bisa meraih kontribusi diatas 15 persen. 

Direktur khusus kargo akan membawa beban biaya yang cukup besar karena masih ada layer di bawah Direktur seperti Vice President, Senior Manager, Manager dan Koordinator Penjualan.

Belum lagi saat ini kantor pusat Garuda banyak disusupi pejabat level senior manager sampai dengan VP yang diisi tenaga pro hires namun keahlihannya tidak simetris dengan bisnis aviasi. 

Maka tak heran banyak kebijakan dari kantor pusat mengalami kendala masalah atau kurang bisa diaplikasikan di kantor cabang dan menimbulkan kegaduhan di pasar Garuda sendiri. 

Contoh nyata adalah embargo Asita beberapa bulan lalu, karena Garuda memotong besaran komisi bagi travel agen konvensional. Dalam pembinaan SDM internal, pejabat-pejabat pro hires juga mematikan motivasi kader-kader internal yang potensial. 

Dengan diangkatnya jajaran direksi Garuda yang baru, diharapkan manajeman  baru dapat melakukan proses balik di semua lini secepatnya atau kalau tidak, penghargaan kru terbaik apapun itu tidak akan mampu menahan persaingan yang sengit. (Syam S )

BACA JUGA: Garuda Mencatat Angka Kerugian 99,1 Juta Dollar AS

Baca Juga

 

Industri  -  Sabtu, 17 Februari 2018
KESELAMATAN PENERBANGAN
Cuaca Ekstrim, Sektor Penerbangan Terganggu

Bisnisnews.id - Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso  mengingatkan  semua pihak di sektor penerbangan bersatu mentaati peraturan dalam menghadapi cuaca ekstrim di bulan Februari ini. Semua pihak . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Sabtu, 17 Februari 2018
KOMPETENSI
Pekerja Perkeretaapian Wajib Memiliki Sertifikat Keterampilan

Bisnisnews.id  -  Para petugas perkeretaapian diwajibkan mengikuti uji kelaikan  sesuai bidangnya masing-masing. Ditjen Perkeretaapian Kemenhub  mentargetkan, tahun ini sebanyak 2000 orang akan mendapatkan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Sabtu, 17 Februari 2018
IMO
Biaya Perawatan Prasana Kereta Api Tahun Ini Rp 1,3 Triliun

Bisnisnews.id - Ditjen Perkeretaapian Kemenhub  tahun ini alokasikan anggaran Rp 1.3 triliun untuk biaya perawatan prasarana perkeretaapian atau  Infrastructure Maintenance and Operation (IMO). Biaya yang bersumber . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Jumat, 16 Februari 2018
FASILITAS BANDARA
Area Parkir TOD M1 Soetta Beroperasi Maret 2018

Bisnisnews.id - PT Anglasa Pura II rampungkan pembangunan kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD) di Pintu M1 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Kota Tangerang dan  akan  beroperasi 1 Maret 2018 . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Jumat, 16 Februari 2018
BOLA
Indosiar Kejar Rating Siaran Langsung Final Piala Presiden

Bisnisnews.id – Sebagai pemegang hak siar turnamen Piala Presiden, Indosiar telah memiliki target rating mencapai 40 persen. Mengingat animo masyarkat yang sangat tinggi terhadap laga penutup Piala Presiden 2018.   . . .
Selengkapnya