Minggu, 20 Mei 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Penerbangan / Berita

OPINI PUBLIK
Minggu, 30 April 2017 09:27 WIB

Terus Merugi dan Tidak Pernah Kasih Deviden, Ada Apa Dengan-mu Garuda ......


Garuda Indonesia Airways di terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta (Foto: BN/Syam S)

Direktur AIAC, Arista Atmadjati mengatakan, "kalau Garuda Indonesia terus merugi, bukan hal yang aneh, sebab dari tahun 2011 tidak pernah memberikan deviden. Sahamnya pun sejak dilepas pertama kali bukannya meningkat malah merosot. Saya adalah pemilik 20 ribu lembar saham, sangat merindukan Garuda untung ...." 


Bisnisnews.id-Biaya bahan bakar yang tinggi dan rendahnya yield penumpang, menjadi alasan direksi Garuda Indonesia atas kerugian pada triwulan pertama tahun 2017 sebesar 99,1 juta dollar AS. Padahal maskapai penerbangan nasional Indonesia ini termasuk airlines terbaik di dunia, karena konsisten meraih penghargaan di industri penerbangan. Seperti: "Awak Kabin Maspakai Terbaik" dari Skytrax World Airline Awards dalam tiga tahun berturut-turut serta penghargaan "Maskapai Penerbangan Paling Dicintai" untuk kategori kepuasan konsumen. 

Terakhir ditambah penghargaan "Maskapai Penerbangan Paling Baik" dari Airlineratings.com, situs rating produk dan keamanan maskapai penerbangan dunia. Sayangnya, meski meraih banyak penghargaan, maskapai penerbangan Garuda Indonesia, menghadapi kendala dalam pencapaian revenue dan jumlah penumpangnya. Pada semester 1 tahun 2016 malah merugi Rp800 miliar. 

Analis penerbangan, Arista Atmadjati, yang juga pendiri Arista Indonesia Aviation Center (AIAC Aviation) dalam tulisan opini-nya kepada Bisnisnews.id  menyebutkan, tidak ada korelasi antara banyaknya penghargaan dengan pendapatan.

Headlines semua media cetak pada 1 Agustus 2016 menulis bahwa semester I 2016 Garuda Indonesia catatkan kerugian Rp821 Miliar. Seperti adegan ulangan, triwulan 1 tahun 2017 ini, kembali laporan keuangan maskapai Garuda merugi 99,1 juta dolar, ekuivalen 1 miliar lebih. 

Memang trend bisnis penerbangan di Indonesia pada semester triwulan 1 dan 2 masih memasuki low season. "Namun kerugian lebih dari 1 miliar pada triwulan 1, belum lagi nanti triwulan 2, jika tidak membaik maka kinerja maskapai pelat merah ini memasuki alarm kuning," kata Arista, Minggu (30/4/2017) saat menyikapi laporan keuangan Garuda Indonesia.

Arista, yang juga pemilik 20 ribu lembar saham Garuda Indonesia ini mengatakan, faktor penyebab kerugian terkesan seperti diulang-ulang. Yakni, menyalahkan faktor biaya/cost membengkak dan kenaikan harga avtur. 

Selain biaya bahan bakar lebih tinggi, Garuda juga mengemukakan alasan tentang persaingan ketat. Dalam pers conference 28 April 2017, Pahala Mansury, CEO Garuda mengatakan, yield penumpang turun walau jumlah penumpang meningkat.

Bila kita melihat maskapai negara tetangga, misal Qantas Grup, tahun 2016 bisa meraup keuntungan 8,7 triliun sebelum pajak. Demikian juga Cathay Pacific Hongkong juga untung besar di 2016. Jadi alasan avtur naik dan biaya internal tinggi sudah seperti kaset usang. 

Garuda seperti tidak menyadari pasar domestik mereka hanya sebagai tulang punggung, sudah bukan sebagai market leader lagi. Lion Grup sudah menguasai 55 persen market domestik, jadi 45 persen kue domestik dibagi antara Garuda Grup, Sriwijaya, Air Asia Indonesia, Express Air dan lainnya. 

Pembukaan rute Garuda ke kota-kota kabupaten, seperti ke Langgur, Mamuju, Kolaka, Baubau, Nias, Sabang, Lhoksumawe dengan menggunakan aircraft ATR dan CRJ 1000 kurang pas dengan konsep maskapai full service. 

Rute-rute kabupaten awalnya didesain untuk anak Garuda, yaitu Citilik. Namun rupanya Citilink tidak sanggup. Malah akhirnya Citilink melayani rute beradu 'head to head' dengan induknya Garuda Indonesia. 

Maka disinyalir terjadi perpindahan penumpang Garuda ke Citilink, apalagi sebagian rute Citilink ada di bandara Halim Perdanakusuma. Lebih nyaman bagi penumpang dari Jakarta Timur, Bogor, Bekasi.

Rute-rute Garuda ke luar negeri mayoritas merugi juga karena semua cost menggunakan mata uang dollar AS.  Untuk rute luar negeri, Garuda Indonesia belum menjadi 'preferred airlines' dan kalah bersaing dengan Emirates, Qatar, Etihad, Singapore Airlines, Cathay Pacific. 

Belum lagi, rute jarak jauh Garuda Indonesia ke Amsterdam dan London juga mengkhawatirkan. Ibaratya, menggerus kantong pendapatan sendiri yang sudah bertahun-tahun merugi. 

Ancaman lain juga datang dari Batik Air dengan konsep full service, namun selisih harga bisa 30 persen dari harga Garuda. Batik Air meggerogoti dengan 42 armada Boeing 737-900ER dan melayani penerbangan ke 33 destinasi domestik (di luar 3 destinasi Internasional) dengan 220 jadwal penerbangan setiap harinya. 

HARGA SAHAM

Indikator harga saham Garuda setelah IPO Februari 2011, sampai dengan saat ini harganya tereduksi sampai dengan 50 persen. Harga perdana saham GIAA Rp750 dan saat ini harga saham GIAA hanya berkisar Rp380. Dan yang mengenaskan, sejak IPO 2011, Garuda belum sekalipun membagi deviden.

Garuda Indonesia juga harus membenahi faktor internal, dimana banyak terjadi inefisiensi. Secara keseluruhan, organisasi Garuda Indonesia terlalu besar. Tentunya memakan biaya yang tidak sedikit dan menyebabkan inefisiensi. Ini nampak nyata dengan adanya direktorat baru dengan kehadiran direktur kargo. 

Pertanyaannya adalah mengapa harus ada Direktur Kargo sementara Garuda sendiri sampai saat ini tidak mempunyai pesawat freighter khusus pengangkut barang. Selama Garuda tidak punya pesawat jenis freighter, maka pendapatan yang diharapkan dari bisnis kargo bakalan tidak bisa meraih kontribusi diatas 15 persen. 

Direktur khusus kargo akan membawa beban biaya yang cukup besar karena masih ada layer di bawah Direktur seperti Vice President, Senior Manager, Manager dan Koordinator Penjualan.

Belum lagi saat ini kantor pusat Garuda banyak disusupi pejabat level senior manager sampai dengan VP yang diisi tenaga pro hires namun keahlihannya tidak simetris dengan bisnis aviasi. 

Maka tak heran banyak kebijakan dari kantor pusat mengalami kendala masalah atau kurang bisa diaplikasikan di kantor cabang dan menimbulkan kegaduhan di pasar Garuda sendiri. 

Contoh nyata adalah embargo Asita beberapa bulan lalu, karena Garuda memotong besaran komisi bagi travel agen konvensional. Dalam pembinaan SDM internal, pejabat-pejabat pro hires juga mematikan motivasi kader-kader internal yang potensial. 

Dengan diangkatnya jajaran direksi Garuda yang baru, diharapkan manajeman  baru dapat melakukan proses balik di semua lini secepatnya atau kalau tidak, penghargaan kru terbaik apapun itu tidak akan mampu menahan persaingan yang sengit. (Syam S )

BACA JUGA: Garuda Mencatat Angka Kerugian 99,1 Juta Dollar AS

 

Arena  -  Minggu, 20 Mei 2018
INAPGOC
Asian Para Games 2018 Berjalan Aman

Bisnisnews.id – Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengingatkan Ketua Umum Panitia Nasional Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC),  Raja Sapta  Oktohari  terkait persiapan keamanan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Minggu, 20 Mei 2018
KESELAMATAN PENERBANGAN
Runway Bandara Juanda Surabaya Amblas , puluhan Penerbangan Terganggu

Bisnisnews.id - Maskapai Lion Air mengumumkan, pelayanan penerbangan dari bandara Juanda Surabaya kembali normal setelah fasilitas landas pacu (runway) dinyatakan aman (safety) untuk proses lepas landas (take off) dan mendarat . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Minggu, 20 Mei 2018
ASIAN PARA GAMES 2018
Menpora Apresiasi Kerja Keras INAPGOC

Bisnisnews.id – Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memberikan apresiasi kepada Panitia Nasional Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC). yang sejak tahun lalu telah menunjukan progress yang menggembirakan. . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Sabtu, 19 Mei 2018
RESOLUSI PBB
AS dan Australia Menolak Penyelidikan Kejahatam Perang Israel Terhadap Palestina

Bisnisnews.id  -  Amerika Serikat  dan Australia menolak dlakukannya resolusi untuk mengirim tim investigasi  menyelididki pelanggaran yang dilakukan Israel di Palestina, khusunya Jalur Gaza. Rapat Dewan Khusus . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Sabtu, 19 Mei 2018
SIDANG OKI
Wapres Jusuf Kalla Desak Hamas dan Fatah Bersatu dan Kompak

Bisnisnews.id - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Hamas dan Fatah bersatu dan mennyelesaikan konflik internal. Dengaan demikian, dukungan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) secara diplomatis akan semakin memperkuat . . .
Selengkapnya