Senin, 25 September 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Nasional / Politik / Berita

SERANGAN KPK
Selasa, 13 Juni 2017 15:52 WIB

Novel Baswedan Tak Ingin Sedih


Penyidik KPK Novel Baswedan terluka dalam serangan oleh penyerang tak dikenal. Sudah 2 bulan, pelakunya tak kunjung ditemukan (Photo: Achmad Ibrahim-AP)

Bisnisnews.id - Pada tanggal 11 April Novel Baswedan, salah satu penyidik ​​korupsi di Indonesia berada di tengah kasus penggelapan yang melibatkan anggota parlemen di Indonesia. Penyelidikan akhirnya mencuat. Sehari sebelumnya, Setya Novanto, Ketua DPR secara resmi dilarang meninggalkan Indonesia selama 6 bulan setelah terkait kasus yang sedang diselidiki Novel.

"Ada begitu banyak korupsi yang harus dihadapi," kata Novel kepada TIME.

Saat dia berjalan pulang dari masjid, seseorang muncul di belakangnya dan melemparkan sebuah botol asam hidroklorida ke wajahnya. "Itu terjadi begitu cepat," katanya. Lalu ia merasakan terbakar di lubang hidungnya dan matanya. "Rasanya seperti kulit saya terbakar," katanya. Dan tiba-tiba dia merasakan sensasi yang tidak asing lagi, seseorang menyerang saya.

Novel dengan cepat dibawa ke rumah sakit umum di Jakarta, sebelum dipindahkan ke rumah sakit khusus masalah mata. Kerusakan korneanya sangat parah. Dia segera diterbangkan ke rumah sakit di Singapura, operasi rumit yang melibatkan penggunaan plasenta manusia untuk mengganti jaringan mata yang rusak pun terjadi. Masih belum jelas apakah matanya akan sembuh total.

Ketika TIME mewawancarai Novel di Singapura (10/6/2017), dalam wawancara pertamanya, matanya terbuka tapi penglihatan kabur, ia merenungkan siapa yang telah melakukan ini padanya. Menurut hitungannya, ini keenam kalinya dia diserang untuk pekerjaannya. Pada tahun 2011, sebuah mobil membelok ke arahnya saat dia mengendarai motor (dia pikir itu adalah ketidak sengajaan sampai hal yang sama terjadi seminggu kemudian).

Dia menyatakan heran bahwa polisi belum menemukan penyebab dalam serangan terakhir.

"Saya menerima informasi bahwa seorang jenderal polisi, pejabat polisi tingkat tinggi, telah terlibat. Awalnya saya bilang informasinya salah. Tapi sekarang sudah 2 bulan dan kasusnya belum terselesaikan, saya rasa informasinya benar," kata Novel.

Dalam sebuah pernyataan kepada TIME, Tito Karnavian, kepala polisi nasional Indonesia, mengatakan bahwa polisi bekerja keras untuk menyelesaikan kasus tersebut.

"Lima orang telah ditahan namun setelah polisi memeriksa alibi mereka, ternyata mereka tidak berada di sana pada saat serangan tersebut sehingga tidak mungkin menjadi pelaku," tulisnya dalam pesan Whatsapp kepada TIME. Tito mengatakan kekuatan kontra-terorisme elit Indonesia, Detasemen 88 telah dikirim untuk membantu polisi dalam menyelesaikan kasus ini.

"Bisa saja siapa saja yang merasa terancam oleh salah satu penyelidikan Novel," tulis Simon Butt, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam hukum Indonesia di University of Sydney Law School dalam sebuah email kepada TIME.

Meski kondisi matanya demikian, Novel mengatakan, "Saya tidak ingin sedih. Kapan pun kita memutuskan untuk memperjuangkan rakyat banyak, hasilnya kita akan dimusuhi, kita akan diserang," katanya.

Di Singapura, Novel berbicara tentang dia ingin kembali bekerja. Ibunya mengaku prihatin dengan Novel bahkan jika dia tidak terlalu memperhatikan dirinya sendiri.

"Ya, jalannya benar, menghadapi korupsi itu benar," katanya. "Tapi bila hal seperti ini terjadi, apa yang harus dilakukan? Dia punya anak, apa jadinya masa depan mereka? Kalau begitu saya jadi takut. Dia pulang larut malam, kadang tiga hari dia tidak pulang."

Novel mengatakan bahwa kasus penyelidikan penggelapan yang telah dilakukannya mungkin akhirnya melibatkan puluhan anggota parlemen. Tapi pikirannya juga beralih ke keadilan bagi mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadapnya. 

Dia mengatakan bahwa dia tahu bahwa Presiden Jokowi memerintahkan polisi untuk memprioritaskan kasus tersebut, namun dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah Presiden telah mengevaluasi apa masih ada tersangka. 

"Jika ada seseorang yang bekerja dalam pertempuran korupsi, diserang berkali-kali dan tidak ada satupun kasus yang diselesaikan, ini masalah bagi negara, "katanya. 

Dilansir dari wawancara TIME, kemudian dia menambahkan, "Setelah saya, siapa nanti berikutnya?" (marloft)


Baca Juga

 

Internasional  -  Senin, 25 September 2017
TRAGEDI KEMANUSIAAN
Memberi Makan Ribuan Pengungsi,  Bangladesh Berharap Bantuan Internasional

Bisnisnews.id-Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi mengatakan, saat ini Bangladesh sangat membutuhkan bantuan internasional, untuk memberi makan dan melindungi 436.000 orang Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar . . .
Selengkapnya

 

Nasional  -  Minggu, 24 September 2017
AIRNAV INDONESIA
Gunung Agung Status AWAS, Sejumlah Penerbangan ke Bali Akan Dialihkan 

Bisnisnews.id-Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Airnav Indonesia) akan mengalihkan sejumlah rute penerbangan tujuan bandara I Gusti Ngurahrai Bali ke sejumlah bandara, menyusul ancaman letusan . . .
Selengkapnya

 

Opini  -  Minggu, 24 September 2017
Nobar Pertandingan  KPK Vs DPR,  Makin Tegang ....

Oleh: Baba Makmun Penulis adalah wartawan senior, tinggal di kawasan Pejaten Timur Jaksel. Bisnisnews.id-Ibarat tengah nonton bareng (nobar) pertandingan sepakbola, 'duel' Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) lawan Komisi Pemberantasan . . .
Selengkapnya

 

Nasional  -  Minggu, 24 September 2017
SATWA LANGKA
Tiongkok  Pinjamkan  Giant Panda ke  Indonesia Untuk Dikembangbiakan

Bisnisnews.id-Tiongkok pinjamkan sepasang satwa Giant Panda kepada pemerintah Indonesia untuk dikembangbiakan di Taman Safari Indonesia. Giant Panda merupakan salah satu satwa kategori Appendix I CITES yang merupakan satwa endemik . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Minggu, 24 September 2017
TES RUDAL
AS Tuduh Iran Dan Korut Kerjasama Kembangkan Nuklir

Bisnisnews.id - Presiden Trump menuduh Iran berkolaborasi dengan Korea Utara untuk memperkuat teknologi rudal mereka dalam tweet-nya pada Sabtu 23 Agustus, mengkritik kesepakatan nuklir 2015 antara AS, Iran dan lima negara kuat . . .
Selengkapnya