Jumat, 28 Juli 2017

Home/ Nasional / Politik / Berita

Selasa, 13 Juni 2017 15:52 WIB

Novel Baswedan Tak Ingin Sedih


Penyidik KPK Novel Baswedan terluka dalam serangan oleh penyerang tak dikenal. Sudah 2 bulan, pelakunya tak kunjung ditemukan (Photo: Achmad Ibrahim-AP)

Bisnisnews.id - Pada tanggal 11 April Novel Baswedan, salah satu penyidik ​​korupsi di Indonesia berada di tengah kasus penggelapan yang melibatkan anggota parlemen di Indonesia. Penyelidikan akhirnya mencuat. Sehari sebelumnya, Setya Novanto, Ketua DPR secara resmi dilarang meninggalkan Indonesia selama 6 bulan setelah terkait kasus yang sedang diselidiki Novel.

"Ada begitu banyak korupsi yang harus dihadapi," kata Novel kepada TIME.

Saat dia berjalan pulang dari masjid, seseorang muncul di belakangnya dan melemparkan sebuah botol asam hidroklorida ke wajahnya. "Itu terjadi begitu cepat," katanya. Lalu ia merasakan terbakar di lubang hidungnya dan matanya. "Rasanya seperti kulit saya terbakar," katanya. Dan tiba-tiba dia merasakan sensasi yang tidak asing lagi, seseorang menyerang saya.

Novel dengan cepat dibawa ke rumah sakit umum di Jakarta, sebelum dipindahkan ke rumah sakit khusus masalah mata. Kerusakan korneanya sangat parah. Dia segera diterbangkan ke rumah sakit di Singapura, operasi rumit yang melibatkan penggunaan plasenta manusia untuk mengganti jaringan mata yang rusak pun terjadi. Masih belum jelas apakah matanya akan sembuh total.

Ketika TIME mewawancarai Novel di Singapura (10/6/2017), dalam wawancara pertamanya, matanya terbuka tapi penglihatan kabur, ia merenungkan siapa yang telah melakukan ini padanya. Menurut hitungannya, ini keenam kalinya dia diserang untuk pekerjaannya. Pada tahun 2011, sebuah mobil membelok ke arahnya saat dia mengendarai motor (dia pikir itu adalah ketidak sengajaan sampai hal yang sama terjadi seminggu kemudian).

Dia menyatakan heran bahwa polisi belum menemukan penyebab dalam serangan terakhir.

"Saya menerima informasi bahwa seorang jenderal polisi, pejabat polisi tingkat tinggi, telah terlibat. Awalnya saya bilang informasinya salah. Tapi sekarang sudah 2 bulan dan kasusnya belum terselesaikan, saya rasa informasinya benar," kata Novel.

Dalam sebuah pernyataan kepada TIME, Tito Karnavian, kepala polisi nasional Indonesia, mengatakan bahwa polisi bekerja keras untuk menyelesaikan kasus tersebut.

"Lima orang telah ditahan namun setelah polisi memeriksa alibi mereka, ternyata mereka tidak berada di sana pada saat serangan tersebut sehingga tidak mungkin menjadi pelaku," tulisnya dalam pesan Whatsapp kepada TIME. Tito mengatakan kekuatan kontra-terorisme elit Indonesia, Detasemen 88 telah dikirim untuk membantu polisi dalam menyelesaikan kasus ini.

"Bisa saja siapa saja yang merasa terancam oleh salah satu penyelidikan Novel," tulis Simon Butt, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam hukum Indonesia di University of Sydney Law School dalam sebuah email kepada TIME.

Meski kondisi matanya demikian, Novel mengatakan, "Saya tidak ingin sedih. Kapan pun kita memutuskan untuk memperjuangkan rakyat banyak, hasilnya kita akan dimusuhi, kita akan diserang," katanya.

Di Singapura, Novel berbicara tentang dia ingin kembali bekerja. Ibunya mengaku prihatin dengan Novel bahkan jika dia tidak terlalu memperhatikan dirinya sendiri.

"Ya, jalannya benar, menghadapi korupsi itu benar," katanya. "Tapi bila hal seperti ini terjadi, apa yang harus dilakukan? Dia punya anak, apa jadinya masa depan mereka? Kalau begitu saya jadi takut. Dia pulang larut malam, kadang tiga hari dia tidak pulang."

Novel mengatakan bahwa kasus penyelidikan penggelapan yang telah dilakukannya mungkin akhirnya melibatkan puluhan anggota parlemen. Tapi pikirannya juga beralih ke keadilan bagi mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadapnya. 

Dia mengatakan bahwa dia tahu bahwa Presiden Jokowi memerintahkan polisi untuk memprioritaskan kasus tersebut, namun dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah Presiden telah mengevaluasi apa masih ada tersangka. 

"Jika ada seseorang yang bekerja dalam pertempuran korupsi, diserang berkali-kali dan tidak ada satupun kasus yang diselesaikan, ini masalah bagi negara, "katanya. 

Dilansir dari wawancara TIME, kemudian dia menambahkan, "Setelah saya, siapa nanti berikutnya?" (marloft)


Baca Juga

 

Industri  -  Jumat, 28 Juli 2017
LAPORAN KEUANGAN
Kinerja Dua Maskapai Alami Penurunan

Bisnisnews.id - Maskapai penerbangan Singapore Airlines (SIA) melaporkan penurunan laba bersih 8,6 persen untuk kuartal pertama tahun buku 2017-18 dibandingkan tahun lalu, katanya dalam rilis berita pada hari Kamis (27/7/2017). . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Kamis, 27 Juli 2017
KIM JONG NAM
Dua Tersangka Akan Mengaku Tidak Bersalah

Bisnisnews.id - Dua wanita yang dituduh meracuni saudara pemimpin Korea Utara di bandara akan mengaku tidak bersalah saat berada di pengadilan Malaysia pada hari Jumat 28 Juli, kata pengacara mereka. Warga Indonesia, Siti Aisyah . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Kamis, 27 Juli 2017
HUB INTERNASIONAL
Lomba Hub Global, Bandara Singapura dan Hong Kong Terancam

Bisnisnews.id - Selama beberapa dekade, Singapura dan Hong Kong telah menjadi titik transit utama yang menghubungkan wisatawan Asia ke dan dari seluruh dunia. Tapi sekarang, banyaknya bandara hub internasional di Asia yang melakukan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Kamis, 27 Juli 2017
E COMMERCE
Amazon Masuki Asia Tenggara, Dimulai Dari Singapura

Bisnisnews.id - Amazon meluncurkan layanan pengiriman ekspres di Singapura pada hari Kamis 27 Juli, raksasa ritel online AS pertama ke Asia Tenggara dan menempatkannya dalam persaingan langsung dengan Alibaba China. Aplikasi . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Kamis, 27 Juli 2017
STRATEGI MASKAPAI
Miliki 12 Anak Perusahaan, AirAsia Akan Konsolidasi Jadi One AirAsia

Bisnisnews.id - CEO AirAsia, Tony Fernandes telah mengatakan bahwa dia ingin mengintegrasikan semua operasi maskapai tersebut ke dalam satu entitas penerbangan tunggal. "Saya mencoba menyatukan AirAsia menjadi satu maskapai menjadi . . .
Selengkapnya