Selasa, 23 Januari 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Metropolitan / Kriminal / Berita

KRIMINAL CYBER
Selasa, 01 Agustus 2017 17:25 WIB

Indonesia Deportasi 153 Warga China Terkait Penipuan 450 Juta Dolar


Polisi China mengawal sekelompok tersangka yang dideportasi dari Indonesia, saat mereka tiba di Beijing (11/6/2011). (Foto: STR / AFP)

Bisnisnews.id - Pemerintah akan mendeportasi 153 warga China yang ditangkap karena tuduhan terlibat dalam penipuan cyber jutaan dolar yang menargetkan pengusaha dan politisi kaya di China, kata polisi Selasa 1 Agustus.

Sindikat menjalankan operasi mereka dari luar negeri untuk menghindari deteksi pejabat China namun tidak menargetkan korban di negara tuan rumah. Mereka menghasilkan sekitar enam triliun rupiah (450 juta dolar) sejak beroperasi pada akhir tahun 2016, kata polisi Indonesia.

Mereka ditangkap menyusul masukan dari pemerintah China.

"Kami sedang melakukan penyelidikan intensif dan saat ini berkoordinasi dengan polisi China untuk mendeportasi mereka," kata juru bicara kepolisian nasional Rikwanto.

Kelompok yang berbasis di beberapa lokasi di seluruh Indonesia, menghubungi korban dan berpura-pura menjadi polisi atau petugas hukum China, berjanji untuk membantu menyelesaikan kasus hukum mereka dengan imbalan bantuan tunai, kata polisi di Jakarta.

Jaringan kriminal termasuk spesialis IT mengambil informasi tentang korban dan mengembangkan sistem komunikasi untuk menghubungi mereka, katanya.

Warga China ditangkap di Jakarta, kota Surabaya dan Bali dalam penggerebekan terpisah akhir pekan ini.

"Pelaku dan korbannya orang China. Kebetulan mereka beroperasi dari Indonesia," kata juru bicara kepolisian Jakarta Argo Yuwono.

Polisi sedang menyelidiki bagaimana beberapa tersangka Cina bisa memasuki Indonesia tanpa paspor yang sah. Penjahat cyber yang menargetkan korban di China telah semakin memanfaatkan kemajuan teknologi untuk beroperasi dari luar negeri, menyebar di Asia Tenggara dan sekitarnya dalam beberapa tahun terakhir.

Pada bulan Juli, 44 orang dari China dan Taiwan ditangkap di Thailand karena diduga menjalankan penipuan telepon yang menipu 3 juta dolar dari sejumlah korban, terutama yang berbasis di China.

Kamboja mendeportasi 74 orang ke China karena dugaan kecurangan telekomunikasi, juga pada bulan Juli, menurut Xinhua.

Tahun lalu, 67 tersangka dideportasi dari Kenya ke China atas penyelidikan kecurangan. (marloft)

Baca Juga

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
HUBUNGAN INDUSTRIAL
Dirjen Hubud Sikapi Kemelut Manajemen Garuda Vs APG dan Sekarga,

Bisnisnews.id - Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengingatkan para operator penerbangan agar menyelesaikan beragam masalah yang ada di internal perusahaan asal tidak berdampak negatif terhadap keselamatan, . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
REPUTASI MASKAPAI
Seragam AirAsia Terlalu Seksi, Pemerintah Sarankan Sesuai Shariah

Bisnisnews.id - Seorang penumpang maskapai telah menyatakan rasa prihatinnya setelah mengaku bisa melihat payudara dan celana dalam pramugari. June Robertson asal New Zeland adalah penumpang yang sering terbang ke Malaysia. Tapi . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
REGULASI IMO
Kapal dan Pelabuhan Wajib Implementasikan ISPS Code

Bisnisnews.id - Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, Capt. Jhonny R Silalahi menyebutkan sebanyak 348 fasilitas pelabuhan di Indonesia telah mengimplementasikan The International Ship and Port Facility Security (ISPS) . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
IPO
GMF AeroAsia Belum Menunjuk Investor Strategis

Bisnisnews.id - Direktur Utama GMF AeroAsia Iwan Juniarto, menjelaskan, hingga saat ini belum menunjuk investor strategis. Proses pemilihan masih dilakukan dan akan dibahas  dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 23 Januari 2018
KONFLIK YERUSALEM
Al-Qaeda Serukan Serangan Ke Yahudi dan Amerika Di Dunia

Bisnisnews.id - Pemimpin senior Al Qaeda telah meminta umat Islam di dunia untuk bangkit dan membunuh orang-orang Yahudi dan Amerika sebagai tanggapan atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota . . .
Selengkapnya