Kamis, 23 November 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Penerbangan / Berita

KRISIS TELUK
Minggu, 20 Agustus 2017 18:34 WIB

Video Profokatif Saudi Dilaporkan Qatar Ke ICAO


Grafis animasi yang dirilis oleh saluran berita Arab Saudi Al Arabiya di tengah krisis Teluk dianggap provokatif

Bisnisnews.id - Doha mengatakan bahwa laporan saluran televisi Saudi TV yang menunjukkan pesawat Qatar Airways ditembak jatuh telah meneror penumpangnya.

Qatar telah mengajukan keluhan ke Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) atas upaya melawan peneroran wisatawan yang terbang dengan maskapai nasionalnya.

Dalam surat yang dikirim ke badan PBB berbasis di Montreal pada hari Sabtu (19/8/2017), Doha mengatakan bahwa kelompok Saudi telah melanggar hukum internasional dengan menyiarkan laporan berita yang menunjukkan penembakan pesawat penumpang Qatar Airways.

Laporan yang disiarkan oleh saluran Arab Saudi, Al Arabiya berbasis di Dubai merupakan pelanggaran yang jelas dan serius terhadap perjanjian dan konvensi internasional, khususnya Konvensi Chicago 1944 terkait perjanjian layanan lalu lintas udara internasional dan hukum udara internasional, kata surat tersebut.

Qatar meminta ICAO untuk mengingatkan semua negara anggota bahwa mereka bertanggung jawab atas keselamatan lalu lintas udara di negara mereka.

Laporan Al Arabiya, yang disiarkan pada 9 Agustus, mengklaim bahwa undang-undang internasional mengizinkan negara-negara untuk menembak jatuh pesawat yang memasuki wilayah udaranya, karena dapat didefinisikan sebagai target musuh.

Pada satu titik di video tersebut, sebuah animasi roket terlihat ditembakkan ke pesawat Qatar Airways.

Video tersebut juga menyebutkan bahwa memaksa pesawat mendarat dan mengirim awak kabin ke pengadilan karena dianggap melanggar keamanan nasional.

Dalam keluhan terakhirnya, Qatar mengatakan bahwa laporan Al Arabiya telah banyak beredar di media internasional.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir memberlakukan blokade darat, laut dan udara pada tanggal 5 Juni.

Semua pesawat yang terdaftar di Qatar dilarang terbang melintasi wilayah udara negara-negara mereka sehingga memaksa maskapai penerbangan untuk mengambil rute yang lebih panjang dan lebih mahal.

Pembatasan lalu lintas udara telah menyebabkan sakit kepala bagi 2,4 juta penduduk Qatar, 90 persen di antaranya adalah orang asing.

ICAO mengumumkan awal bulan ini bahwa Qatar Airways telah diberi akses rute baru melalui perairan internasional di Teluk yang dikendalikan UEA dan Bahrain. (marloft)

 

Baca Juga

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
KECELAKAAN
Delapan Selamat Setelah Pesawat AL AS Jatuh DI Laut Jepang

Bisnisnews.id - Tim penyelamat telah menyelamatkan delapan orang ke tempat yang aman di selatan Jepang setelah sebuah pesawat Angkatan Laut AS dengan 11 orang di kapal jatuh di Laut Filipina. Pasukan Jepang dan Amerika bergegas . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
TERORIS
Pakistan Bebaskan Dalang Serangan Mumbai

Bisnisnews.id - Pengadilan Pakistan pada hari Rabu 22 November memerintahkan pembebasan salah satu dalang dugaan serangan Mumbai 2008 yang menewaskan lebih dari 160 orang, setelah berbulan-bulan AS menekan Islamabad atas dugaan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
ZIMBABWE
Mugabe Keluar, Buaya Pulang Ambil Alih

Bisnisnews.id - Wakil presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa akan terbang pulang pada hari Rabu 22 November untuk mengambil alih kekuasaan setelah pengunduran diri Robert Mugabe yang mengakhiri masa pemerintahan 37 tahun yang otoriter. Dia . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
SERBIA
Dipenjara Seumur Hidup, Penjagal Bosnia Dinyatakan Bersalah Atas Genosida

Bisnisnews.id - Juri PBB pada hari Rabu 22 November menghukum mantan komandan Serbia Bosnia, Ratko Mladic untuk menjalani hukuman penjara seumur hidup setelah menemukannya bersalah melakukan genosida dan kejahatan perang dalam . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Rabu, 22 November 2017
LIBANON
PM Hariri Tidak Jadi Undur Diri

Bisnisnews.id - Perdana Menteri Libanon Saad Hariri mengatakan pada hari Rabu 22 November bahwa dia menangguhkan pengunduran dirinya, sambil menunggu jalan keluar potensial dari sebuah krisis politik yang telah mengguncang negara . . .
Selengkapnya