Senin, 22 Januari 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Otomotif / Berita

ANTI MONOPOLI
Selasa, 24 Oktober 2017 01:56 WIB

EU Targetkan Produsen Mobil Jerman


Volkswagen adalah salah satu sasaran serangan antimonopoli Uni Eropa (AFP)

Bisnisnews.id - Serangkaian penggerebekan oleh regulator anti monopoli Uni Eropa terhadap produsen mobil Jerman membuat pukulan baru pada hari Senin 23 Oktober.

Komisi Uni Eropa mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah melakukan inspeksi terkait dengan kekhawatiran bahwa beberapa produsen mobil Jerman mungkin telah melanggar peraturan anti monopoli UE yang melarang praktik bisnis kartel dan pembatasan.

Dalam proses anti-trust Uni Eropa, nama-nama perusahaan mobil yang terlibat tidak diungkapkan.

Namun, produsen Volkswagen dan Mercedes-Benz Daimler keduanya mengakui secara terpisah bahwa mereka sedang diselidiki, sementara BMW memastikan pada hari Jumat (20/10/2017) bahwa itu adalah sebuah penggerebekan

Kembali di bulan Juli, berita mingguan Der Spiegel telah melaporkan bahwa Volkswagen, Daimler, Audi, Porsche dan BMW secara diam-diam bekerja sama sejak tahun 1990an untuk pengembangan, konstruksi dan logistik mobil.

Bukanlah hal yang aneh bagi pelaku industri untuk bekerja sama, dan inspeksi Uni Eropa mulai menginvestigasi apakah perundingan antara pembuat mobil melewati batas kolusi.

Namun demikian, majalah tersebut menuduh bahwa baik pembeli maupun pemasok raksasa otomotif terkena dampak negatif dari kesepakatan di bawah meja.

Diduga, pembuat mobil bahkan sepakat dalam pembicaraan rahasia mengenai ukuran tangki bahan kimia yang digunakan untuk emisi nitrogen oksida berbahaya dari motor diesel.

Kecilnya tanki tersebut dilaporkan memainkan peran kunci dalam skandal kecurangan emisi yang telah mencoreng reputasi Volkswagen.

Pada tahun 2015, VW terpaksa mengakui telah memasang perangkat lunak di jutaan kendaraan dieselnya di seluruh dunia untuk menipu tes emisi, sebuah skandal yang telah menghabiskan biaya puluhan miliar euro.

Kecurigaan tentang kecurangan diesel sejak itu menyebar ke produsen mobil lain, terutama Daimler,yang telah digerebek oleh polisi Jerman.

Dari AFP, pembuat mobil telah sepakat dengan pemerintah Jerman bahwa mereka akan mengganti beberapa mesin diesel yang lebih tua untuk mengurangi emisi mereka, walaupun kenyataannya kebanyakan kendaraan hanya akan mendapatkan update untuk perangkat lunak mereka. (marloft)

Baca Juga

 

Internasional  -  Senin, 22 Januari 2018
PENGANGGURAN
Ciptakan Entrepreuner, Facebook Latih 65,000 Orang Perancis

Bisnisnews.id - Facebook mengatakan pada hari Senin 22 Januari bahwa mereka akan melatih 65.000 orang Prancis dalam keterampilan digital secara gratis, untuk membantu wanita dan pengangguran memulai bisnisnya dan bisa kembali . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Senin, 22 Januari 2018
DEMONSTRASI
PBB : Anti Presiden, Enam Tewas Di Kongo

Bisnisnews.id - Enam orang tewas di Republik Demokratik Kongo pada hari Minggu 21 Januari, kata PBB, karena pihak berwenang melarang demonstrasi terhadap Presiden Joseph Kabila. Saksi mata mengatakan pasukan keamanan melepaskan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Minggu, 21 Januari 2018
PROYEK CHANGI
Singapura Kenakan Pajak Tambahan Kepada Penumpang

Bisnisnews.id - Otoritas penerbangan sipil Singapura(CAAS)  berencana akan menaikan pajak 10 -15 dolar Singapura kepada para penumpang dari dan ke bandara Changi. Dana tambahan tersebut akan digunakan untuk membiayai perluasan . . .
Selengkapnya

 

Regulasi  -  Minggu, 21 Januari 2018
REGULASI
Sertifikasi Kapal Wajib Mencantumkan Bahasa Indonesia

Bisnisnews.id - Mulai 1 Februari 2018 Sertifikat Garis Muat Kapal berbendera Indonesia yang dikeluarkan Badan Klasifikasi Nasional maupun Asing, wajib mencantumkan format berbahasa Indonesia. Direktur Perkapalan dan Kepelautan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Minggu, 21 Januari 2018
MINYAK DUNIA
Arab Saudi Serukan Perpanjang Pemangkasan Produksi

Bisnisnews.id - Arab Saudi menyerukan hari Minggu 21 Januari untuk memperpanjang kerjasama antara produsen OPEC dan non-OPEC sampai lewat dari 2018. Seruan tersebut datang setelah harga minyak mencapai 70 dolar per barel berkat . . .
Selengkapnya