Senin, 22 Januari 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Nasional / Hankam / Berita

SEMINAR
Rabu, 08 November 2017 17:15 WIB

Cara Pandang Bela Negara Harus Futuristik



Bisnisnews.id -  Gerakan cinta tanah air sekarang ini wajib dilakukan pada seluruh elemen masyarakat. Ini merupakan satu upaya menangkal terhadap potensi ancaman yang membahayakan negara.
 
Implementasinya diharapkan dapat  memperkuat semangat bela negara dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. 
 
Pengalaman menunjukan, kerajaan-kerajaan di nusantara pada waktu itu, seperti Sriwijaya atau Majapahit; tumbuh, eksis dan mengalami masa gemilang hanya selama jangka waktu tertentu.  
Pada hal wilayah kekuasaannya sudah mencapai wilayah indo china. Setelah itu, tenggelam dan hancur .  Apakah sejarah itu akan mengulang ? 
 
Pemikiran ini muncul dalam pelaksanaan Seminar 'Meningkatkan Semangat Bela Negara dalam Rangka Mewujudkan Pertahanan Negara yang Tangguh'
yang diselenggarakan Kementrian Pertahanan Jawa Barat, Rabu (8/11/2017) di Bandung.
 
Kepala Kantor Pertahanan Jawa Barat, Kolonel Cecep Darmawan berharap kegiatan serupa dapat  dilaksanakan secara terjadwal. Karena persoalan ancaman terhadap kedaulatan negara sudah di depan mata.
 
Kemajuan teknologi dan pola pikir manusia telah berubah. Demikian juga dalam kaitannya dengan ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan  terhadap negara. 
 
Bukan saja dari ragam jenisnya,  tetapi juga dari sisi kuantitas dan kualitas.
Apa yang dahulu dianggap tidak mungkin, sekarang ini menjadi sangat mungkin.
 
Dahulu,  tidak terpikir 'agresi' ekonomi Tiongkok sehebat sekarang ini. Ada serbuan tenaga kerja Tiongkok, ada tanaman cabe milik orang Tiongkok, ada kejahatan cyber yang dilakukan orang-orang Tiongkok, ada pembangunan proyek yang dikuasai sepenuhnya oleh orang Tiongkok. Ada penyelundupan narkoba bahkan ada kasus pengibaran bendera Tiongkok di salah satu pulau dan lain sebagainya.
 
Agresi ekonomi Tiongkok itu bukan suatu kebetulan, etapi sudah dirancang sedemikian rupa sejak lama. 
 
Cara pandang futuristik ini juga harus dikuasai oleh para penentu kebijakan negara ini. Termasuk para legislator. 
 
Peraturan perundang-undangan jangan lagi bersifat tambal sulam atau mengikuti perkembangan dari belakang tetapi harus benar-benar mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang mungkin timbul di masa yang akan datang. (Uus Sumirat)
 
 
 

Baca Juga

 

Internasional  -  Senin, 22 Januari 2018
PENGANGGURAN
Ciptakan Entrepreuner, Facebook Latih 65,000 Orang Perancis

Bisnisnews.id - Facebook mengatakan pada hari Senin 22 Januari bahwa mereka akan melatih 65.000 orang Prancis dalam keterampilan digital secara gratis, untuk membantu wanita dan pengangguran memulai bisnisnya dan bisa kembali . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Senin, 22 Januari 2018
DEMONSTRASI
PBB : Anti Presiden, Enam Tewas Di Kongo

Bisnisnews.id - Enam orang tewas di Republik Demokratik Kongo pada hari Minggu 21 Januari, kata PBB, karena pihak berwenang melarang demonstrasi terhadap Presiden Joseph Kabila. Saksi mata mengatakan pasukan keamanan melepaskan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Minggu, 21 Januari 2018
PROYEK CHANGI
Singapura Kenakan Pajak Tambahan Kepada Penumpang

Bisnisnews.id - Otoritas penerbangan sipil Singapura(CAAS)  berencana akan menaikan pajak 10 -15 dolar Singapura kepada para penumpang dari dan ke bandara Changi. Dana tambahan tersebut akan digunakan untuk membiayai perluasan . . .
Selengkapnya

 

Regulasi  -  Minggu, 21 Januari 2018
REGULASI
Sertifikasi Kapal Wajib Mencantumkan Bahasa Indonesia

Bisnisnews.id - Mulai 1 Februari 2018 Sertifikat Garis Muat Kapal berbendera Indonesia yang dikeluarkan Badan Klasifikasi Nasional maupun Asing, wajib mencantumkan format berbahasa Indonesia. Direktur Perkapalan dan Kepelautan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Minggu, 21 Januari 2018
MINYAK DUNIA
Arab Saudi Serukan Perpanjang Pemangkasan Produksi

Bisnisnews.id - Arab Saudi menyerukan hari Minggu 21 Januari untuk memperpanjang kerjasama antara produsen OPEC dan non-OPEC sampai lewat dari 2018. Seruan tersebut datang setelah harga minyak mencapai 70 dolar per barel berkat . . .
Selengkapnya