Minggu, 20 Mei 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Penerbangan / Berita

PELAYANAN MASKAPAI
Jumat, 01 Desember 2017 09:14 WIB

Perlakukan Penumpang Seperti Bagasi, Air Transat Didenda 228.000 Dolar


Air Transat telah didenda karena penundaan 6 jam terkait cuaca buruk tapi tidak memperlakukan layanan penumpang dengan baik (BBC)

Bisnisnews.id - Air Transat telah didenda sebesar 228.000 Dolar setelah penumpang harus menunggu di apron selama enam jam tanpa cukup makanan atau air.

Badan Transportasi Kanada mengatakan bahwa maskapai tersebut tidak menerapkan persyaratan dan ketentuannya sendiri.

Penentuan tersebut muncul setelah penyelidikan dua penerbangan Air Transat yang tertunda di Ottawa Juli lalu.

Seorang penumpang mengatakan pada penyelidikan bahwa mereka merasa seperti barang bawaan.

Badan federal tersebut mengatakan bahwa Air Transat tidak menerapkan persyaratan dan kondisi pengangkutannya sendiri karena pilot tidak mempertimbangkan saat membiarkan penumpang turun ketika tertunda melampaui 90 menit.

Penyelidikan juga menemukan bahwa maskapai tersebut tidak menjalankan kewajibannya kepada penumpang hanya karena alasan kejadian di luar kendalinya, apakah itu pengalihan penerbangan karena cuaca buruk atau tindakan pihak lain di bandara Ottawa yang memberikan kontribusi atas penundaan yang panjang.

Air Transat mengeluarkan permintaan maaf pada hari Kamis 30 November dan mengatakan akan memberi 500 dolar untuk setiap penumpang yang terkena dampak penundaan 31 Juli.

Maskapai ini menambahkan bahwa pihaknya akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mematuhi arahan badan transportasi tersebut, termasuk memastikan stafnya dilatih secara memadai dan mengubah kebijakannya saat delay di apron.

157 penumpang dari Brussels dan 507 dari Roma terdampar di apron di bandara Ottawa selama enam jam karena cuaca buruk.

Pada bulan Agustus,Badan Transportasi Kanada mengadakan penyelidikan atas insiden yang dipublikasikan secara luas.

29 penumpang akhirnya menawarkan kesaksian tentang pengalaman mereka.

Mereka menggambarkan frustrasi dan kepanikan yang semakin meningkat akibat komunikasi yang buruk dari staf maskapai penerbangan.

Penumpang mengatakan mereka terdampar tanpa AC, makanan atau air yang memadai, dan toilet.

Lebih dari satu penumpang yang bersaksi dalam audiensi publik mengatakan bahwa mereka merasa hanya dilihat sebagai barang bawaan. (marloft)

 

Arena  -  Minggu, 20 Mei 2018
INAPGOC
Asian Para Games 2018 Berjalan Aman

Bisnisnews.id – Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengingatkan Ketua Umum Panitia Nasional Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC),  Raja Sapta  Oktohari  terkait persiapan keamanan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Minggu, 20 Mei 2018
KESELAMATAN PENERBANGAN
Runway Bandara Juanda Surabaya Amblas , puluhan Penerbangan Terganggu

Bisnisnews.id - Maskapai Lion Air mengumumkan, pelayanan penerbangan dari bandara Juanda Surabaya kembali normal setelah fasilitas landas pacu (runway) dinyatakan aman (safety) untuk proses lepas landas (take off) dan mendarat . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Minggu, 20 Mei 2018
ASIAN PARA GAMES 2018
Menpora Apresiasi Kerja Keras INAPGOC

Bisnisnews.id – Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memberikan apresiasi kepada Panitia Nasional Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC). yang sejak tahun lalu telah menunjukan progress yang menggembirakan. . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Sabtu, 19 Mei 2018
RESOLUSI PBB
AS dan Australia Menolak Penyelidikan Kejahatam Perang Israel Terhadap Palestina

Bisnisnews.id  -  Amerika Serikat  dan Australia menolak dlakukannya resolusi untuk mengirim tim investigasi  menyelididki pelanggaran yang dilakukan Israel di Palestina, khusunya Jalur Gaza. Rapat Dewan Khusus . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Sabtu, 19 Mei 2018
SIDANG OKI
Wapres Jusuf Kalla Desak Hamas dan Fatah Bersatu dan Kompak

Bisnisnews.id - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Hamas dan Fatah bersatu dan mennyelesaikan konflik internal. Dengaan demikian, dukungan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) secara diplomatis akan semakin memperkuat . . .
Selengkapnya