Selasa, 23 Januari 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Internasional / Berita

KONFLIK YERUSALEM
Jumat, 22 Desember 2017 01:21 WIB

AS Kalah Telak, Skor Suara PBB 128-9


Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan menjelang pemilihan Majelis Umum bahwa AS sedang mengawasi dan mengancam pembalasan terhadap negara-negara yang mendukung tindakan tersebut. (AFP)

Bisnisnews.id - Majelis Umum PBB pada hari Kamis 21 Desember melakukan pemungutan suara dan menang 128-9 dan 35 abstain dalam menolak keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Presiden Donald Trump telah memperingatkan menjelang pemungutan suara di majelis bahwa AS akan mengamati dan mengancam pembalasan terhadap negara-negara yang mendukung tindakan tersebut.

Tujuh negara: Guatemala, Honduras, Togo, Mikronesia, Nauru, Palau dan Kepulauan Marshall, bergabung dengan Israel dan Amerika Serikat dalam menentang tindakan tersebut.

Di antara 35 negara yang abstain adalah Argentina, Australia, Kanada, Kroasia, Republik Ceko, Hungaria, Latvia, Meksiko, Filipina, Rumania dan Rwanda.

Ukraina, yang mendukung rancangan resolusi di Dewan Keamanan, berada di antara 21 negara yang tidak hadir untuk pemungutan suara.

Pemungutan suara dilakukan Majelis Umum setelah diveto oleh Amerika Serikat di Dewan Keamanan pada hari Senin (18/12), meskipun 14 anggota dewan lainnya memilih berseberangan.

"Amerika Serikat akan ingat hari ini," kata Duta Besar AS Nikki Haley kepada majelis tersebut.

"Amerika akan menempatkan kedutaan kita di Yerusalem," kata Haley seperti dikutip dari AFP. "Tidak ada suara di PBB yang akan membuat perbedaan dalam hal itu."

"Tapi suara ini akan membuat perbedaan bagaimana orang Amerika melihat PBB dan bagaimana kita memandang negara-negara yang tidak menghormati kita di PBB," katanya.

"Ketika kami memberikan kontribusi murah hati kepada PBB, kami juga memiliki harapan yang sah bahwa niat baik kami diakui dan dihormati."

Sementara resolusi oleh Majelis Umum tidak mengikat, suara pendukung yang kuat membawa bobot politik.

Israel merebut sebagian besar wilayah Arab timur Yerusalem selama Perang Enam Hari 1967 dan kemudian mencaploknya, dengan mengklaim kedua sisi kota sebagai "ibukota abadi dan tak terbagi".

Namun Palestina menginginkan sektor timur sebagai ibukota negara mereka di masa depan dan dengan keras menentang upaya Israel untuk memperluas kedaulatan di sana. (marloft)

Baca Juga

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
HUBUNGAN INDUSTRIAL
Dirjen Hubud Sikapi Kemelut Manajemen Garuda Vs APG dan Sekarga,

Bisnisnews.id - Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengingatkan para operator penerbangan agar menyelesaikan beragam masalah yang ada di internal perusahaan asal tidak berdampak negatif terhadap keselamatan, . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
REPUTASI MASKAPAI
Seragam AirAsia Terlalu Seksi, Pemerintah Sarankan Sesuai Shariah

Bisnisnews.id - Seorang penumpang maskapai telah menyatakan rasa prihatinnya setelah mengaku bisa melihat payudara dan celana dalam pramugari. June Robertson asal New Zeland adalah penumpang yang sering terbang ke Malaysia. Tapi . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
REGULASI IMO
Kapal dan Pelabuhan Wajib Implementasikan ISPS Code

Bisnisnews.id - Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, Capt. Jhonny R Silalahi menyebutkan sebanyak 348 fasilitas pelabuhan di Indonesia telah mengimplementasikan The International Ship and Port Facility Security (ISPS) . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Selasa, 23 Januari 2018
IPO
GMF AeroAsia Belum Menunjuk Investor Strategis

Bisnisnews.id - Direktur Utama GMF AeroAsia Iwan Juniarto, menjelaskan, hingga saat ini belum menunjuk investor strategis. Proses pemilihan masih dilakukan dan akan dibahas  dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 23 Januari 2018
KONFLIK YERUSALEM
Al-Qaeda Serukan Serangan Ke Yahudi dan Amerika Di Dunia

Bisnisnews.id - Pemimpin senior Al Qaeda telah meminta umat Islam di dunia untuk bangkit dan membunuh orang-orang Yahudi dan Amerika sebagai tanggapan atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota . . .
Selengkapnya