Selasa, 24 April 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Internasional / Berita

DISIPLIN FISKAL
Jumat, 05 Januari 2018 23:43 WIB

Permalukan Pemerintah, Jerman Pasang Jam Utang


Jam penunjuk utang di Jerman mulai berjalan mundur dalam 22 tahun, mencerminkan transparansi dan perbaikan keuangan negara (AFP)

Bisnisnews.id - Jam utang di Jerman yang dipasang untuk mempermalukan pemerintah terkait disiplin fiskal, mulai berjalan mundur untuk pertama kalinya dalam sejarah 22 tahun sejak 1995.

Hal bersejarah ini dianggap mencerminkan perbaikan dalam keuangan publik negara tersebut.

Jam di Berlin itu sekarang menunjukkan pundi-pundi publik bergerak ke hitam dengan tarif 78 euro per detik.

Memang pada tingkat penurunan saat ini, dibutuhkan lebih dari 800 tahun untuk membawa total hutang sebesar 2 triliun dolar turun menjadi nol.

Namun Federasi Pembayar Pajak Jerman (BdSt), yang menyiapkan jam digital itu tetap memuji perputaran tersebut sebagai pertanda baik bagi ekonomi terbesar Eropa.

Presiden Federasi Reiner Holznagel mengatakan: "Baru-baru ini pemerintah mulai bertanggung jawab atas kebijakan menumpuk hutang ini."

"Kebijakan yang merugikan generasi masa depan, untungnya sekarang dihentikan."

Tingkat hutang sebenarnya telah turun sejak 2013 menjadi sekitar 23.827 euro per orang sekarang.

Tapi Holznagel mengatakan pengaruhnya hanya tercermin dalam anggaran nasional dan regional mulai tahun ini.

Dilansir dari pemberitaan AFP, BdSt mengatur jam itu di pintu masuk markas besar Berlin pada tahun 1995.

Faktanya, negara ini dalam beberapa tahun terakhir membukukan surplus anggaran yang mencapai miliaran.

Sumber keuntungan ini diperkirakan akan terus berlanjut selama 4 tahun ke depan senilai 30 miliar eueo menurut Peter Altmaier, menterian keuangan yang sekarang.

Ketika perundingan koalisi dengan Demokrat Sosial berjalan, para politisi melihat uang tunai sebagai kesempatan untuk kemewahan dalam bentuk pemotongan pajak, belanja lebih tinggi atau investasi publik.

Dengan hutang sebesar 68,1 persen dari PDB, Jerman adalah satu dari sedikit anggota UE yang mendekati batas 60 persen yang ditetapkan dalam Perjanjian Maastricht, bersama dengan Lithuania, Estonia, Luksemburg, Finlandia dan Belanda. (Marloft)

Baca Juga

 

Industri  -  Selasa, 24 April 2018
TRANSPORTASI UDARA
Bandara Jenderal Soedirman Ditargetkan Selesai 2019

Bisnisnews.id  - Dirjen Perhubungan Udara  Agus Santoso mengatakan,  Bandara Jenderal Besar Soedirman yang terletak di kawasan pangkalan TNI AU Wirasaba Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah sangat strategis karena . . .
Selengkapnya

 

Metropolitan  -  Senin, 23 April 2018
DESTINASI WISATA
Reaksi Disparbud DKI Soal Kegiatan Pangkalan Pasir di Sunda Kelapa

Bisnisnews.id - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta,  Tinia  Budiati akui, Sunda Kelapa  di Tanjung Priok Jakarta Utara sebagai Pelabuhan heritage  dan menjadi salah satu destinasi Wisata bersejarah. . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Senin, 23 April 2018
BOLA
Mohamed Salah Jadi Pemain Terbaik versi PFA

Bisnisnews.id – Pemain Liverpool Mohamed Salah sukses meraih gelar pemain terbaik versi Professional Fotballers Association (PFA) musim 207-2018.   Mohamed Salah berhak atas gelar ini karena telah berhasil mengungguli . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Senin, 23 April 2018
BOLA
Pires Sebut Wenger Dinosaurus Terakhir

Bisnisnews.id – Legenda sepak bola Arsenal Robert Pires menyebut mantan pelatihnya Arsene Wenger sebagai sosok dinosaurus terakhir di era sepak bola zaman kini.   Pemain berkebangsaan Perancis tersebut mengatakan bahwa . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Senin, 23 April 2018
CATUR
Kejar Rating, PB Percasi Gelar Turnamen Internasional

Bisnisnews.id – Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) menggandeng produsen makanan nasional dalam menggelar JAPFA Grandmaster (GM) and Women Grandmaster (WGM) Chest Tournament 2018. Direktur Corporate . . .
Selengkapnya