Minggu, 18 Februari 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Perbankan / Berita

PERBANKAN
Kamis, 25 Januari 2018 05:51 WIB

Kecil Peluang Menurunkan Bunga Acuan Selama 2018



Bisnisnews.id - Suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo akan sulit untuk diturunkan dari level 4,25 persen pada 2018, mengingat masih derasnya risiko eksternal dan kebutuhan untuk menjangkar inflasi di 2,5-4,5 persen (yoy).

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menjelaskan, Bank Sentral pada tahun ini akan lebih mengandalkan instrumen moneter lainnya selain bunga acuan, dan instrumen kebijakan makroprudensial.

Bank Sentral terakhir kali menurunkan suku bunga acuan pada Oktober 2017, dari 4,5 ke 4,25 persen, karena inflasi yang terus menurun saat itu. Pemangkasan suku bunga acuan itu juga melengkapi pelonggaran moneter yang terbilang agresif oleh BI sejak Desember 2015 hingga Oktober 2017 sebesar 200 basis poin.

Agus mengatakan pelonggaran kebijakan makropudensial akan diberikan pada tahun ini dengan memperluas perhitungan rata-rata Giro Wajib Minimum (GWM-Averaging) ke denominasi valas di bank umum, dan juga rupiah dan valas di bank syariah. Besaran GWM Averaging pun dinaikkan menjadi dua persen dari total GWM-Primer 6,5 persen terhadap Dana Pihak Ketiga untuk simpanan rupiah di bank umum.

Otoritas Moneter juga akan menerapkan rasio intermediasi makroprudensial dengan menambah perhitungan pembelian obligasi pada komponen pinjaman yang disalurkan perbankan. Kemudian, penyempurnaan GWM Sekunder untuk menjadi penyangga likuiditas makroprudnesial

Agus mengakui BI juga harus memberi perhatian lebih untuk tekanan inflasi, terutama faktor kelompok harga barang bergejolak (volatile food). Di Januari 2018, harga beras, cabai dan barang hortikultura diperkirakan mengerek inflasi.

"Ada kenaikan di harga beras dan cabai dan holtikultura, tetapi kita melihat dan menyambut baik ketika pemerintah memutuskan impor beras dan kita tahu dalam waktu yg tdk lama lagi panen beras akan berlangsung sehingga harga akan terkendali," ujar Mantan Menteri Keuangan itu.

Sementara, risiko eksternal berasal dari rencana penurunan suku bunga acuan Federal Rserve dan pemangkasan neraca. Kondisi geopolitik di berbagai negara juga meningkatkan tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan, termasuk Indonesia.(Antaranews/Adhitio)

Baca Juga

 

Industri  -  Sabtu, 17 Februari 2018
KESELAMATAN PENERBANGAN
Cuaca Ekstrim, Sektor Penerbangan Terganggu

Bisnisnews.id - Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso  mengingatkan  semua pihak di sektor penerbangan bersatu mentaati peraturan dalam menghadapi cuaca ekstrim di bulan Februari ini. Semua pihak . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Sabtu, 17 Februari 2018
KOMPETENSI
Pekerja Perkeretaapian Wajib Memiliki Sertifikat Keterampilan

Bisnisnews.id  -  Para petugas perkeretaapian diwajibkan mengikuti uji kelaikan  sesuai bidangnya masing-masing. Ditjen Perkeretaapian Kemenhub  mentargetkan, tahun ini sebanyak 2000 orang akan mendapatkan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Sabtu, 17 Februari 2018
IMO
Biaya Perawatan Prasana Kereta Api Tahun Ini Rp 1,3 Triliun

Bisnisnews.id - Ditjen Perkeretaapian Kemenhub  tahun ini alokasikan anggaran Rp 1.3 triliun untuk biaya perawatan prasarana perkeretaapian atau  Infrastructure Maintenance and Operation (IMO). Biaya yang bersumber . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Jumat, 16 Februari 2018
FASILITAS BANDARA
Area Parkir TOD M1 Soetta Beroperasi Maret 2018

Bisnisnews.id - PT Anglasa Pura II rampungkan pembangunan kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD) di Pintu M1 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Kota Tangerang dan  akan  beroperasi 1 Maret 2018 . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Jumat, 16 Februari 2018
BOLA
Indosiar Kejar Rating Siaran Langsung Final Piala Presiden

Bisnisnews.id – Sebagai pemegang hak siar turnamen Piala Presiden, Indosiar telah memiliki target rating mencapai 40 persen. Mengingat animo masyarkat yang sangat tinggi terhadap laga penutup Piala Presiden 2018.   . . .
Selengkapnya