Kamis, 24 Mei 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Berita

INFRASTRUKTUR
Minggu, 11 Februari 2018 13:51 WIB

Menelisik Persiapan Masuknya Pesawat Bongsor Di Bandara Baru Kepri


Dirjen Agus saat melakukan kunjuan kerja (technical visit) di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang dan resort wisata di daerah Lagoi, Minggu (11/2/2018)


Bisnisnews.id - Sejumlah destinasi wisata di Kepulauan Riau, seperti Bintan Resort di Lagoi Pulau Bintan barat dan utara memiliki potensi cukup bagus. Pada era-90an  kawasan itu masuk destinaai no.4 di Indonesia dengan tingkat kunjungan wisatawan manca negara (wisman)  setiap tahun 2  juta  orang.

Inilah destinasi wisata Indonesia yang masuk kawasan SIJORI (Singapore - Johor - Riau). Sayangnya, sekitar 70 persen wisatawan asing tersebut mengunjungi tempat-tempat wisata di Kepulauan Riau melalui penerbangan transit Singapura dan baru melanjutkan dengan kapal laut langsung ke  tempat wisata di Kepulauan Riau. Seperti ke Bintan Resort di Lagoi Pulau Bintan barat dan utara.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubunga,   Agus Santoso mengingatkan maskapai nasional dan pengelola bandara mengambil pasar itu. Pemerintah sendiri terus berupaya mendorong pembenahan bandara yang dapat disinggahi pesawat - pesawat  bongsor atau wide body.

Bandara dengan landasan pacu atau runway 3000 meter,  dilengkapi fasilitas sisi darat standar  internasional, akan merangsang maskapai nasional dan asing yang mengoperasikan pesawat bongsor dari bandara asal dapat  singgah langsung (dirrect flight wide body jet aircraft) ke Kepulauan Riau.

Di Riau, pengembang kawasan wisata resort di Bintan berambisi untuk bisa membangun dan mengoperasikan bandara yang diinvestasikannya murni swasta untuk dijadikan bandara Internasional berdimensi landasan panjang dan berskala besar agar bisa menampung pesawat bongsor terbang langsung (dirrect flight wide body jet aircraft) ke kawasan itu.

Pesawat bongsor itu lebih ekonomis, efisien, karena membawa lebih banyak penumpang (factor seat efficiency), menjadikan parameter dominant dalam menetapkan harga ticket yang identik dengan attractiveness paket- paket wisata.
 
Pesawat bongsor yang dapat mengakomodir  para pelancong dari mancanegara, diantaranya,  Airbus A300, Airbus A330, Airbus A340, Airbus A350, Airbus A380, Boeing 747, Boeing 767, Boeing 777, Boeing 787 Dreamline.

Memperhatikan keinginan swasta yang didukung dengan finansial yang kuat  untuk berinvestasi di wilayah ini, pemerintah, ungkap Dirjen Agus menjamin kemudahan investasi swasta murni masuk di dalamnya.

Keinginan swasta memgembangkan destinasi wisata di Bintan dapat juga mengadopsi  skema yang ditawarkan pemerintah. Yaitu, menggabungkan operasi bersama antara  Bintan Airport  dengan Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang yang sudah ada. Cara ini tentu dinilai lebih efektif dan efisien  dalam menarik pasar wisata di tingkat internasional, yang bukan saja dinikmati Bintan Resort tapi objek wisata lain di Kepulauan Riau.

Skema kerjasama lain yang juga bisa diadopsi ialah kerjasama operasi (KSO) dengan PT. Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Raja Haji Fisabilillah yang bertaraf komersial Internasional dan juga berada di Pulau Bintan.

"Manakala skema kerjasama ini berjalan,  ini merupakan bandar udara yang betul betul didanai oleh swasta murni dalam pembangunannya mulai dari nol atau biasa kita sebut dengan  Green Field," kata Dirjen Agus,  saat technical visit di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang dan resort wisata di daerah Lagoi, Minggu (11/2/2018).

Tersedianya  bandar udara representatif,  dekat dengan tempat wisata bertaraf internasional, diharapkan wisatawan asing bisa langsung terbang ke Indonesia. Dengan demikian devisa yang disedot semakin banyak dan mampu mendongkrak perekonomian lokal Kepulauan Riau. Dirjen Agus bahkan berharap,  Bintan bisa dijadikan Hub Wisata Indonesia.

Bandara Baru

Seperti diketahui, kawasan resort wisata internasional Lagoi, Bintan saat ini sedang dibangun bandar udara oleh investor swasta. Namun belum mememuhi persyaratan  sebagai bandara komersial.

Sebelumnya izin yang diperoleh adalah bandara khusus yang tidak bisa melayani penerbangan komersial Internasional. Akubatnya pembangunan bandara tersebut menjadi tersendat.

Agar bandara tersebut bisa menjadi bandara komersial internasional, dan pembangunannya bisa terus dilanjutkan,  Ditjen Perhubungan Udara menawarkan solusi,  agar pengelola bandara (swasta) tersebut untuk melakukan kerjasama operasi (KSO) dengan PT. Angkasa Pura II yangvsekarang ini  mengelola Bandara Raja Haji Fisabilillah bertaraf komersial Internasional dan juga berada di Pulau Bintan.

"Jadi nantinya pengelolaan operasional bandaranya? navigasi penerbangannya jadi satu. Di bandara baru tersebut bisa didirikan sub tower ATC yang menginduk pada tower ATC Bandara Raja Haji Fisabilillah. Jarak kedua bandara tersebut tidak jauh sehingga masih bisa dilakukan kerjasama tersebut. Dan kerjasama itu juga sudah jamak dilakukan di dunia penerbangan internasional," ujar Agus .

Sampai saat ini pembangunan bandara baru tersebut sudah menyelesaikan izin penetapan lokasi dan kawasan keselamatan operasional penerbangan (KKOP). Sedangkan Izin Mendirikan Bangunan Bandar Udara (IMBB) sedang dalam proses pembahasan setelah detail disain diselesaikan maka akan diterbitkan IMBBU dan perkerasan runway langsung akan digelar.

Bandara baru tersebut nantinya  mempunyai panjang runway sekitar 3.500 X 60 meter sehingga bisa melayani operasional pesawat-pesawat jet berbadan lebar dari mancanegara.

Selain untuk melayani penerbangan wisata, bandara tersebut juga diproyeksikan untuk melayani penerbangan pesawat-pesawat yang akan dirawat. Karena di kawasan sekitar bandara juga akan dikembangkan aerospace park di mana akan ada banyak perusahaan Maintenance Repair and Overhaul (MRO) yang beroperasi.

Saat ini ada sekitar 1200 pesawat yang beroperasi di Indonesia yang lebih dari setengahnya dirawat oleh MRO luar negeri. Karena terbatasnya kapasitas MRO di tanah air dan lamanya pemesanan suku cadang.

Dengan tambahan MRO di bandara tersebut nantinya akan menambah kapasitas MRO nasional dan perawatan pesawat Indonesia bisa dilakukan di dalam negeri. Bahkan juga bisa menarik pangsa pasar luar negeri. Dengan demikian devisa negara akan bertambah, baik dari sektor wisata maupun industri MRO. (Syam S)

 

Baca Juga

 

Industri  -  Rabu, 23 Mei 2018
SINERGI BUMN
AP II dan AirNav Indonesia Tandatangani Kerjasama Jasa Kebandarudaraan

Bisnisnews.id - PT Angkasa Pura II (Persero) agau AP II bersinergi dengan Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding . . .
Selengkapnya

 

Info Pasar  -  Rabu, 23 Mei 2018
PERDAGANGAN
harga Minyak Mentah Menurun

Bisnisnews.id - Harga minyak AS melemah pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga tahun di sesi sebelumnya. Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Rabu, 23 Mei 2018
NAVIGASI
Bandara Kertajati Majalengka Siap Melayani Angkutan Haji

Bisnisnews.id - Sisi udara Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati Majalengka siap operasi. Dalam jangka pendek yang akan dilayani ialah angkutan mudik lebaran dan pelayanan haji 2018. Direktur Utama AirNav Indonesia Novie . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Rabu, 23 Mei 2018
MASTER
Games yang Melahirkan Seorang Utut Adianto

Bisnisnews.id – Buku pecatur legendaris Amerika Serikat, Bobby Fischer, yang berjudul My 60 Memorable Games ternyata memiliki sejarah dan cerita panjang yang melahirkan seorang atlet catur kebanggaaan Indonesia Utut Adianto.    Ada . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Rabu, 23 Mei 2018
BOLA
Evan Dimas Berharap Kontrak Luis Milla Diperpanjang

Bisnisnews.id – Pemain timnas Indonesia U-23 Evan Dimas Darmono menjelaskan bahwa dirinya sangat mendukung Luis Milla Aspas terkait perpanjangan kontrak dirinya oleh PSSI. Seperti diketahui kontrak Milla akan habis setelah . . .
Selengkapnya