Jumat, 22 Juni 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Gaya Hidup / Budaya / Berita

GAME EDUKASI
Senin, 19 Maret 2018 20:26 WIB

'Kwartet' Mengasah Kecerdasan Kebangsaan Zaman Now dan Zaman Next


Riko Noviantoro, pencipa permainan atau game "Kwartet Kebangsaan" yang dapat mengasah kecerdasan anak-anak tentang Indonesia.

 Bisnisnews.id - Kahfi Ahmad Rauf, siswa kelas III Sekolah Dasar tertawa lepas, riang bermain bersama lima teman sebayanya. Mereka bukan sedang sibuk 'kutak-katik' permainan game  digital, seperti digandrungi kalangan generasi zaman now.


"Ini kwartet kebangsaan. Seru mainnya. Sekalian belajar tentang Indonesia," kata Kahfi, saat menjelaskan permainan Kwartet Kebangsaan di Cornelia Residance, Graha Raya, Tangerang Selatan, saat ditanya.

Kwartet Kebangsaan itulah namanya. Sebuah alat permainan edukasi bertema kebangsaan. Permainan kwartet sejatinya sudah cukup dikenal pada era 90-an. Namun seiring waktu permainan tersebut menghilang dan terlibas era digita, seiring pesatnya perkembangan zaman.

Namun ternyata permainan ini bisa menjadi penarik sekaligus pembelajaran, karena permainannya menyajikan berbagai perihal tentang Indonesia, mulai dari ideologi Pancasila, Lembaga Negara, Lagu Nasional, Lagu Daerah, Tarian tradisional hingga Kuliner.

Menariknya lagi berbagai informasi yang tersaji pada Kwartet Kebangsaan itu dapat dipelajari lebih lanjut dalam sebuah buku panduan. Sehingga selama permainan juga dapat belajar bersama tentang berbagai hal yang disajikan dalam Kwartet Kebangsaan.

“Kwartet Kebangsaan ini adalah modul permainan edukasi. Pola bermainnya dengan menebak kartu yang dimiliki lawan. Jika benar, maka kartu tersebut diserahkan kepada pemain yang meminta. Kemudian kartu tersebut dikumpulkan hingga berjumlah lengkap empat,” tutur Riko Noviantoro, pencipta alat permaian edukasi bertema kebangsaan, saat ditemui.

Jenis permainaan seperti ini, lanjutnya lebih dipopulerkan sebagai edu game kebangsaan. Edu sebagai penyederhanaan dari kata Edukasi dan Game adalah permainan. Maka arti lebih lengkap adalah sebuah alat permaianan yang bertujuan untuk meningkatkan semangat kebangsaan pada generasi muda.

Model permainannya bisa bermacam-macam. Kwartet Kebangsaan adalah salah satunya.

"Ini adalah versi edu game 2.0. Sebelumnya saya sudah membuat edisi pertama yang mirip permainan monopoli. Hanya temanya lagi-lagi kebangsaan," tutur pria penggiat literasi ini.

Adapun materi kwartet, ungkap pria empat puluh tahun ini, terdapat 18 kategori. Setiap kategori terdapat empat sub-kategori yang merupakan implementasi dari kategori tersebut. Misalkan kategori Sila 1 Ketuhanan Yang Maha Esa, maka sub kategorinya adalah Tidak Memaksakan Kepercayaan, Hidup Sederhana, Menghormati Antar Agama dan Taat Beribadah.

"Semua sub kategori teresbut menjabarkan atau menjelaskan kategori pada kwartet. Dengan begitu setiap pemain bertugas mengumpulkan kategori secara lengkap. Mereka yang berhasil mengumpulkan kategori dalam jumlah banyak adalah pemenang," ucapnya.

Keseruan dari permainan ini adalah, kemampuan pemain fokus dan mengetahui tebakan lawan. Kehilangan fokus dan salah membaca tebakan lawan, dapat menyebabkan pemain lawan mampu mengenali kartu yang dimilikinya.

Bukan itu saja, permainan Kwartet Kebangsaan semakin terasa menegangkan jika dimainkan lebih dari empat orang. Bahkan dalam sejumlah simulasi edu game kebangsaan dilakukan pada 10 orang pada setiap kelompok permainan.

"Semakin banyak pemain, semakin seru. Karena peluang lupa, salah sebut, salah tebakan dan sebagainya bisa terjadi," ucapnya sumringah.

Permainan kelompok seperti ini yang mulai jarang pula terjadi di era digital. Anak-anak lebih tertarik dengan permainan yang mengadopsi teknologi digital di smartphone. Tidaklah mengherankan, ketika pemainan ini disodorkan, awalnya 'mereka' menjadi asing dan terasa jadul untuk memulai. Tetapi setelah itu, mereka lebih bisa bermain dan nyaman dalam kelompok.

Dengan demikian, lanjut Riko Noviantoro permainan kwartet kebangsaan ini secara tidak langsung menghidupkan tradisi bermain kelompok. Sekaligus menumbuhkan semangat ke-Indonesia-an yang selama ini kian pudar.

"Ada anak-anak yang tidak tahu lagi apa kalimat Sila 1 Pancasila. Bahkan ada pula yang lupa semuanya. Itu memprihatinkan," tuturnya.

Dia berharap, melalui permainan ini dapat kembali mengenal Indonesia secara lebih luas. Apalagi Kwartet Kebangsaan juga dilengkapi buku panduan yang dikenal Edugame Klopedia. Melalui buku tersebut segala hal yang disebutkan dapat diketahui detil.

"Selamat bermain dan belajar."


Muhammad Iqbal - TANGERANG

Baca Juga

 

Arena  -  Kamis, 21 Juni 2018
ASIAN GAMES 2018
Menpora Kembali Ingatkan Target 10 Besar

Bisnisnews.id – Hari pertama masuk kerja usai cuti bersama Idul Fitri seluruh pejabat, staf Kemenpora menggelar Halal Bihalal 1439 H tahun 2018 dengan Menpora Imam Nahrawi, Ketua Inasgoc Erick Thohir, Ketua Inapgoc Raja . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Kamis, 21 Juni 2018
BOLA
Gede Siapkan Layar Lebar pada Laga Persija vs Persebaya

Bisnisnews.id – Menyambut pertandingan Persjia Jakarta kontra Persebaya Surabaya yang akan tersaji pada 26 Juni 2018. Gede Widiade berjanji akan menyiapkan layar lebar di beberapa wilayah agar para supoerter The Jakmania . . .
Selengkapnya

 

Nasional  -  Kamis, 21 Juni 2018
TRAGEDI DANAU TOBA
ABK KM Sinar Bangun dan Patugas Dishub Tigaras Diperiksa Polisi

Bisnisnews.id - Tiga petugas Dinas Perhubungan di Pelabuhan Tigaras dan empat  anak buah kapal (ABK)  diperiksa pihak Kepolisian terkait tenggelamnya KM Sinar Bangun di kawasan Danau Toba yang diduga membawa ratusan  . . .
Selengkapnya

 

Arena  -  Kamis, 21 Juni 2018
PIALA DUNIA
Jagoan Sayap Kiri Denmark Sewa Jet Pribadi Untuk Melihat Istrinya Melahirkan

Bisnisnews.id  -  Jagoan sayap kiri Denmark, Jonas Knudsen harus absen beberapa jam karena istri tercintanya Trine melahirkan. Ini adalah kelahiran yang ditunggu-tunggu saat  para bintang lapangan hijau  berlaga. . . .
Selengkapnya

 

Nasional  -  Kamis, 21 Juni 2018
ANGKUTAN LEBARAN
Aktivitas Arus Balik di Bandara Adi Sutjipto dan Sumarmo Lancar

Bisnisnews.id - Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso melakukan pemantauan atus balilboemydik di  Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta dan  Bandara Adi Sumarmo Solo. "Hari ini secara marathon saya mengunjungi dua bandara . . .
Selengkapnya