Ratusan Penumpang KMP Virgo Transport 08 Belum Ditemukan, KPAI Angkat Bicara Korban Anak dan Perempuan
Selasa, 15 September 2026, 15:54 WIB
BISNISNEWS.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) angkat bicara pada sejumlah kasus kecelakaan kapal, terutama tenggelamnya kapal Virgo Transport 08 di Laut Jawa (Masalembo) pada Senin (13/9/2026) dini hari yang menewaskan ratusan orang.
Sampai saat ini, dari 243 penumpang baru 129 orang ditemukan selamat dan enam penumpang dinyatakan meninggal dunia. Sisanya belum ditemukan, dugaan kuat para penumpang masih terperangkap di dalam lambung kapal yang kini sudah tenggelam ke dasar laut.
KPAI meminta pihak terkait bersikap jujur dan transparan soal kasus kecelakaan ini dan meminta daftar manifest dibuka ke publik secara transparan
Hal yang sangat mendesak adalah memastikan manifes penumpang secara akurat dan membuka informasi yang dibutuhkan keluarga korban serta publik, khususnya terkait keberadaan anak-anak di dalam kapal.
KPAI dalam keterangannya Selasa (15/9/2026) menegaskan, jumlah penumpang anak-anak dan dewasa yang menjadi korban yang sampai saat ini belum ditemukan.
Selain itu juga dipertanyakan, adanya kesamaan antara jumlah penumpang yang diangkut dengan penumpang yang masuk dalam daftar manifest.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra meminta perhatian khusus terhadap anak-anak yang berhasil dievakuasi. Kalau ada yang belum ditemukan segera diumumkan dan diupdate untuk diketahui masyarakat terutama para keluarga korban.
Karena pasca peristiwa kecelakaan yang mengerikan itu, anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian dan tempat tinggal sementara. Mereka membutuhkan rasa aman, pendampingan keluarga, dukungan psikososial, perlindungan dari paparan situasi traumatis, pendataan, dan reunifikasi keluarga.
Anak yang terpisah dari orang tua atau keluarganya, lanjutnya, harus segera mendapatkan perlindungan khusus agar tidak terjadi kehilangan identitas, salah penempatan, atau risiko kekerasan dan eksploitasi pascakejadian.
Dalam situasi ini, anak harus segera diidentifikasi, dilindungi, didampingi, dan dipertemukan kembali dengan keluarganya.
Selain korban anak-anak, KPAI juga mencermati kesaksian para penumpang yang berhasil diselamatkan yang menggambarkan bahwa situasi darurat terjadi dengan sangat cepat.
Kesaksian bahwa banyak perempuan dan anak berada di kamar atau ruang dalam kapal ketika kejadian berlangsung harus menjadi perhatian serius dalam investigasi.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya mengapa kapal tenggelam, tetapi juga bagaimana sistem keselamatan bekerja ketika kapal mengalami keadaan darurat dalam waktu yang sangat cepat? Di mana anak-anak mendapatkan life jacket?
Bagaimana akses mereka menuju jalur evakuasi, bagaimana prosedur penyelamatan bagi anak yang tidak bersama orang tuanya? Bagaimana dengan perempuan hamil, lansia, penyandang disabilitas, orang sakit, atau kelompok rentan lainnya? Apakah tersedia ruang atau titik transit keselamatan yang mudah dijangkau?
Dan yang paling penting, apakah SOP evakuasi benar-benar memperhitungkan kemampuan fisik dan kebutuhan kelompok rentan?
Betapa mengerikannya, ketika seorang anak harus menghadapi kapal yang ditumpanginya bersama keluarga tiba-tiba miring, gelap, panik, air masuk, dan orang-orang berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing.
Anak tidak memiliki kekuatan fisik dan kemampuan bertahan di air yang sama dengan orang dewasa.
Karena itu, anak tidak boleh hanya dihitung sebagai angka dalam manifes.
Anak harus menjadi bagian dari desain keselamatan, mitigasi risiko, prosedur evakuasi, pendampingan, hingga proses pencarian dan penyelamatan.
" Kami meminta pemerintah memastikan apakah terdapat anak dan perempuan yang belum teridentifikasi atau belum masuk dalam pembaruan data korban,"!ungkapnya.
Terkait investigasi penyebab terjadinya kecelakaan, KPAI menuntut adanya sikap profesional, transparan, independen dan menyeluruh. Publik dan keluarga korban berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. (Syam)