Biaya Menyingkirkan Bangkai Kapal KMP Batumandi di Merak Mencapai Puluhan Miliar
Jumat, 23 Oktober 2026, 15:42 WIB
BISNISNEWS.id - Rencana pengapungan dan pengangkatan bangkai kapal KMP Batumandi yang tenggelam usai mengalami kebakaran di perairan Merak kini masih dikoordinasikan antara Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dengan PT ASDP Indonesia Ferry.
Hingga kini belum diketahui, perusahaan jasa salvage yang akan mengerjakan pengapungan kembali KMP Batumandi. Info santer menyebutkan, pihak ASDP akan menggunakan perusahaan jasa salvage lokal.
Sumber Bisnisnews.id menyebutkan, biaya jasa salvage untuk menyingkirkan bangkai kapal yang mencapai puluhan miliar rupiah itu, sepenuhnya ditanggung pemilik kapal yang dicover pihak asuransi.
Kewajiban dan penyingkiran bangkai kapal yang tenggelam sesuai pasal 203 UU No.66 tahun 2024, sebagai perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, biayanya sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemilik kapal.
Tentang rencana operasi salvage itu juga diakui Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Lollan Panjaitan. Ditegaskan, saat ini sedang dalam pembahasan.
Kata Lollan dalam pembahasan itu juga termasuk soal penunjukan perusahaan penyedia jasa salvage (salvor).
Persiapan tersebut, ungkapnya, agar proses pengangkatan kapal dapat segera dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keselamatan, keamanan, serta kondisi perairan di sekitar lokasi kejadian.
Lokasi tenggelamnya Bangkai KMP Batumandi adalah jalur pelayaran padat, karenanya, bangkai kapal itu harus segera diangkat dan disingkirkan karena sangat mengganggu aktivitas pelayaran.
Saat ini dilokasi tenggelamnya KMP Batumandi telah dipasang garis pengaman berupa buoy dan oil boom.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo menyampaikan bahwa ASDP turut mendukung pelaksanaan operasi pengangkatan guna menjaga kelancaran operasional di Pelabuhan Merak pascatenggelamnya KMP Batumandi.
“Kami mendukung langkah Kementerian Perhubungan dalam memastikan operasional penyeberangan tetap berjalan normal, termasuk pengamanan lokasi kapal, pemasangan buoy dan oil boom, serta persiapan operasi salvage. Seluruh tahapan penanganan kami persiapkan secara terukur bersama pihak berwenang dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan pelayaran,” ujar Heru.
Kementerian Perhubungan akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan penanganan pasca kejadian berjalan secara terencana dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tim Salvage
Praktisi pekerja bawah air , Capt. Zaenal Arifin Hasibuan mengatakan, pengangkatan bangkai kapal di Indonesia, bukan hanya biayanya yang tinggi tapi birokrasinya juga sangat panjang.
" Beda di luar negeri, meskipun biayanya tinggi, tapi birokrasinya tidak serumit di Indonesia. Siapa saja yang menguasai kapal di dasar laut, bisa langsung ditunjuk atau kontrak untuk segera mengerjakan ," kata Zaenal.
Mantan nakhoda maritim senior, yang juga pengusaha pelayaran, sekaligus konsultan di bidang pekerjaan bawah air dan operasi salvage kapal ini tegas mengatakan, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli bawah air.
" Yang membikin pekerjaan bawah air ini lama adalah birokrasinya yang panjang. Perusahaan jasa salvage harus lapor sana-sini, menjalani birokrasi yanh panjang sebelum, diteken kontrak," jelas Zaenal.
Pekerjaan bawah air ini memerlukan keahlian khusus. Bukan sekadar mampu menyelam tapi juga tahu struktur kapal yang tenggelam.
Disebutkan, kapal yang tenggelam dan kandas di dasar laut, umumnya posisinya terbalik. Karenanya, sebelum diapungkan, posisi kapal harus dikembalikan normal, dan ini pekerjaan yang sangat rumit, memerlukan keterampilan khusus.
" Kalau salah posisi, bisa-bisa penyelamnya yang celaka," jelas Zaenal.
Kata Zaenal, birokrasi pengangkatan bangkai kapal di Indonesia akan semakin panjang, bila yang tenggelam adalah kapal penumpang, dimana banyak penumpang yang telah tewas terjebak didalamnya.
Biasanya tim salvage, harus menunggu Tim Basarnas menyelesaikan tugasnya, melakukan evakuasi para penumpang yang terjebak. " Kami bekerja kalau Tim Basarnas benar-benar telah mengumumkan, selesai melakukan pencarian korban," jelas Zaenal.
Dia mencontohkan, seperti bangkai kapal Virgo 8 yang tenggelam di laut Jawa atau perairan masalembu, hingga kini belum bisa dikerjakan Tim Salvage, karena Tim Basarnas masih terus bekerja mencari puluhan penumpang yang terjebak di lambung kapal dalam status meninggal dunia.
"Setelah pencarian penumpang dinyatakan selesai baru kami Tim Salvage bekerja. Untuk kapal jenis roro, kan di dalamnya ada banyak kendaraan, truk barang, juga satu-satu diangkat pakai krane yang disiapkan perusahaan jasa salvage, sebelum kapal itu diapungkan," kata Zaenal..(syam)