Garuda Indonesia Klaim Berperan Mendorong Penguatan Konektivitas ASEAN - China
Selasa, 11 Agustus 2026, 11:04 WIB
BISNISNEWS.id - Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia menegaskan perannya fala. memperkuat konektivitas kawasan ASEAN - China.
Penegasan itu diumumkan Garuda Indonesia atas dasar posisinya saat ini sebagai Chairman ASEAN-China Airlines Forum 2026 yang berlangsung di Yogyakarta pada 7–9 Juli 2026 lalu.
Dalam forum itu, dipertemukan 29 maskapai penerbangan ASEAN dan China, tiga asosiasi industri penerbangan, operator bandar udara, perusahaan manufaktur pesawat, perusahaan MRO, serta regulator penerbangan.
Kepercayaan ini melanjutkan peran serupa yang sebelumnya diberikan kepada Garuda Indonesia pada penyelenggaraan perdana forum tersebut di Labuan Bajo pada 2024.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Bisnisnews.id pada Selasa (11/8/2026), mempertegas langkah Garuda Indonesia yang dinilainya semakin relevan dengan Asia Pasifik yang diperkirakan akan menyumbang sekitar 41 persen dari pertumbuhan penumpang udara global dalam dua dekade mendatang.
Dengan demikian hal ini menempatkan konektivitas ASEAN-China sebagai salah satu elemen penting dalam perkembangan jaringan penerbangan internasional.
ASEAN-China Airlines Forum sendiri merupakan forum strategis lintas kawasan yang mempertemukan maskapai penerbangan, regulator, serta berbagai pemangku kepentingan sektor aviasi dari negara-negara ASEAN dan China.
Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian 17th ASEAN-China Working Group on Regional Air Services Arrangements (ACWG-RASA), yang menghubungkan perspektif pelaku industri dengan pembahasan kebijakan penerbangan antarnegara.
Melalui perannya sebagai Chairman, Garuda Indonesia memfasilitasi penyusunan rekomendasi bersama industri dan para pemangku kepentingan yang menjadi masukan bagi pembahasan kebijakan penerbangan antara pemerintah negara-negara ASEAN dan China, sekaligus mendorong agar berbagai tantangan operasional dan pengembangan konektivitas dapat diterjemahkan menjadi agenda kolaborasi yang konkret dan relevan untuk ditindaklanjuti.
Direktur Transformasi Garuda Indonesia, Neil Raymond Mills, mengatakan bahwa prospek pertumbuhan pasar penerbangan Asia Tenggara perlu direspons dengan kesiapan kapasitas, infrastruktur, regulasi, dan ekosistem industri yang semakin terintegrasi.
“Proyeksi lalu lintas penumpang udara Asia Pasifik yang tumbuh berkelanjutan tersebut menunjukkan besarnya potensi kawasan ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri penerbangan dunia. Momentum tersebut perlu dijawab melalui kolaborasi yang semakin konkret agar pertumbuhan permintaan dapat didukung oleh konektivitas, kapasitas, infrastruktur, dan kebijakan yang memadai,” ujar Neil.
Ia menambahkan, “Melalui peran sebagai Chairman ASEAN-China Airlines Forum 2026, Garuda Indonesia mendorong identifikasi berbagai hambatan konektivitas, merumuskan agenda yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing industri penerbangan regional, serta penyelarasan perspektif antara pelaku industri dan regulator.”
Forum tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang mencakup peningkatan fleksibilitas operasional melalui penyederhanaan pengelolaan slot penerbangan, harmonisasi regulasi Maintenance, Repair and Overhaul atau MRO lintas negara, dukungan terhadap pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), fasilitasi visa dan konektivitas menuju kota-kota sekunder, serta penguatan koordinasi antara regulator dan industri.
Rekomendasi tersebut menjadi masukan industri dalam rangkaian pembahasan ACWG-RASA antara pemerintah negara-negara ASEAN dan China. Dengan demikian, forum tidak hanya menjadi ruang pertukaran perspektif, tetapi juga menjembatani kebutuhan industri dengan proses pengembangan kebijakan penerbangan lintas negara.
Menurut Neil, penguatan konektivitas ASEAN–China tidak cukup hanya dilakukan melalui penambahan kapasitas penerbangan. Pertumbuhan yang berkelanjutan juga memerlukan pengelolaan slot yang semakin fleksibel, kemudahan proses perjalanan lintas negara, kapasitas bandar udara dan armada yang memadai, dukungan ekosistem MRO, serta harmonisasi regulasi yang dapat mengikuti perkembangan kebutuhan industri.
“Hal-hal tersebut menjadi fondasi penting untuk membuka peluang pengembangan rute, peningkatan frekuensi penerbangan, dan perluasan kerja sama industri antara ASEAN dan China,” tegasnya.
Penguatan konektivitas tersebut memiliki arti strategis tidak hanya bagi mobilitas penumpang, tetapi juga terhadap pertumbuhan sektor pariwisata, perdagangan, investasi, logistik, e-commerce, serta pengembangan rantai pasok regional.
“Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Garuda Indonesia sebagai Chairman menjadi bagian dari kontribusi Perusahaan yang lebih luas terhadap pengembangan industri penerbangan regional. Termasuk, mencerminkan komitmen Perusahaan untuk terus mengambil peran aktif dalam membangun konektivitas ASEAN–China yang semakin kompetitif, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan ekosistem penerbangan global,” tutur Neil. (Syam)