HUT Ke-56, INACA Sampaikan Apresiasi Kepada Pemerintahan Presiden Prabowo
Kamis, 15 Oktober 2026, 19:39 WIB
BISNISNEWS.id - Maskapai penerbangan nasional yang terhabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subiyanto.
Ungkapan itu didasatkan pada kepedulian pemerintah, melalui kementerian dan lembaga yang telah memberikan dukungan dan arahan pada maskapai penerbangan nasional sehingga menjadi lebih baik.
Ucapan itu disampaikan Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, saatbacara syukuran memperingati hari jadi INACA ke - 56 pada Rabu, 15 Oktober 2026 di Cengkareng Heliport (CHP) Toos Sanitioso, Cengkareng – Tangerang.
Ucapan terimakasih dan apresiasi juga diungkapkan Denon kepada operator penerbangan, baik itu teman-teman di seluruh maskapai penerbangan, pengelola bandara, Airnav, groundhandling, Pertamina, Jasa Raharja dan lainnya.
INACA sebagai satu-satunya asosiasi maskapai penerbangan Indonesia telah mengikuti perjalanan maskapai penerbangan nasional yang panjang, penuh lika-liku dan naik turun.
“Pada hari yang baik ini, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada segenap stakeholder. Terutama kepada pemerintahan Presiden Prabowo beserta kementerian dan lembaga yang telah memberikan dukungan dan arahan pada maskapai penerbangan nasional sehingga menjadi lebih baik," ungkapnya.
INACA juga mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada stakeholder dari luar negeri seperti pabrikan pesawat Boeing, Embraer, Airbus, penyedia sistem maskapai penerbangan dan institusi lainnya.
Selain itu juga terimakasih kepada asosiasi-asosiasi terkait yang telah memberikan dukungan selama ini.
Selanjutnya, INACA juga mengajak semua stakeholder untuk ke depannya lebih menguatkan dan mengembangkan maskapai penerbangan Indonesia.
“Seperti kita ketahui, pasca pandemi Covid-19 sampai saat ini, maskapai penerbangan global dan nasional terus menerus mengalami tantangan. Tantangan terbesar tentu dari faktor eksternal penerbangan seperti krisis geopolitik di berabgai belahan dunia seperti di Rusia-Ukraina serta di Timur Tengah yang mempengaruhi industri penerbangan dari berbagai hal seperti misalnya harga avtur yang naik tinggi, pasokan sparepart yang terkendala, adanya beberapa rute yang ditutup dan berbahaya untuk diterbangi seperti di Timur Tengah, serta kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah,” lanjut Denon.
Kendati demikian, sebagai bagian dari sebuah bangsa yang besar, maskapai penerbangan Indonesia diyakini akan mampu menghadapi semua tantangan tersebut.
“Kita tidak tahu perkembangan geopolitik global akan seperti apa. Namun kita tidak boleh berhenti karena transportasi udara bagi Indonesia yang wilayahnya berbentuk kepulauan sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi pertumbuhan ekonomi dan perkembangan perikehidupan masyarakat. Untuk itu kami mengajak segenap stakeholder untuk menguatkan dan mengembangkan industri penerbangan nasional sehingga membuat maskapai penerbangan juga menjadi kuat, berdaya saing tinggi dan memberikan manfaat kepada masyarakat melalui konektivitas transportasi udara,” lanjut Denon.
Mengingat kondisi geografis wilayah Indonesia yang merupakan kepulauan, maka konektivitas transportasi udara menjadi sangat penting. Maskapai penerbangan, baik itu untuk penerbangan berjadwal, tidak berjadwal dan penerbangan kargo mempunyai peranan yang sangat penting.
Maskapai penerbangan berperan dalam melancarkan lalu lintas orang di dalam pulau dan antar pulau. Maskapai penerbangan juga mendukung pengembangan industri lain seperti industri pertambangan, perikanan, perkebunan dan juga dapat mengatasi kemacetan lalu lintas perkotaan dengan advance air mobility (AAM) serta membantu kesehatan masyarakat dengan ambulance terbang.
INACA juga mengajak stakeholder lain untuk lebih berperan mengembangkan industri penerbangan dengan mengikuti perkembangan global. Seperti misalnya penyediaan energi alternatif untuk mendukung penerbangan hijau (net zero emmision) tahun 2060, yaitu dengan penyediaan sustainable aviation fuel (SAF) serta energi listrik tanpa bahan fosil untuk pesawat.
“Kita memiliki sumber daya yang melimpah untuk pembuatan SAF dan energi listrik yang minim emisi seperti dari angin, sinar matahari, gas bumi dan lainnya. Kita juga mempunyai sumber daya manusia yang berlimpah dan berkualitas tinggi yang mampu mengembangkan industri penerbangan nasional. Kami yakin dengan orkestrasi dari pemerintah, industri penerbangan dan maskapai penerbangan akan mampu menghadapi tantangan dan menjadi lebih tangguh untuk ke depannya,” jelas Denon.
INACA juga memberikan penghargaan kepada bandara-bandara di bawah pengelolaan PT. Angkasa Pura Indonesia (In Journey Airports).
Penghargaan diberikan berdasarkan Survei Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction Index/ CSI) di 33 bandara yang dilakukan setiap tahun pada bulan Mei – Juni oleh INACA.
Pada tahun ini INACA memberikan penghargaan kepada lima bandara. Yakni, Bandar Udara Sam Ratulangi, Manado kategori Best Airport for Tourism Hub Route Innovation
Bandar Udara Adi Sutjipto, Jogjakarta kategori Airport Heritage & Legacy Award Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport, Balikpapan kategori Best Customer Experience Improvement I Gusti Ngurah Rai International Airport, Denpasar kategori Best Customer Experience for Tourism Hub Jenderal Ahmad Yani Airport, Semarang kategori Best Customer Experience for Local Culture .(Syam)