Pelanggan KA Manfaatkan Face Recognition, pada Januari 2026 Tercatat 890.165 Transaksi, Ada di 22 Stasiun
Kamis, 05 Februari 2026, 15:22 WIB
BISNISNEWS.id - Layanan face recognition kini menjadi alternatif bagi calon penumpang kereta api untuk melakukan pemesanan tiket kereta api jarak jauh.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat, sepanjang Januari 2027 sebanyak 890.165 pelanggan Kereta Api Jarak Jauh telah memanfaatkan layanan face recognition.
Pemanfaatan ini menunjukkan semakin tingginya kebutuhan pelanggan terhadap layanan perjalanan yang praktis, cepat, dan nyaman, seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Seperti diketahui, teknologi Face Recognition merupakan teknologi biometrik yang menggunakan pengenalan wajah untuk mengidentifikasi atau memverifikasi identitas seseorang.
Teknologi ini menggunakan algoritma canggih untuk menganalisis fitur wajah dan mencocokkannya dengan data yang tersimpan.
Layanan face recognition, saat ini tersedia di 22 stasiun, yaitu Bandung, Bekasi, Cirebon, Cirebon Prujakan, Gambir, Kiaracondong, Kutoarjo, Lempuyangan, Medan, Malang, Madiun, Pekalongan, Pasarsenen, Purwokerto, Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Solo Balapan, Semarang Poncol, Semarang Tawang, Tegal, dan Yogyakarta.
Melalui fasilitas ini, pelanggan dapat melakukan proses boarding tanpa perlu menunjukkan tiket cetak maupun dokumen identitas secara manual.
Dari perspektif pelanggan, face recognition menghadirkan pengalaman boarding yang lebih sederhana dan efisien. Proses verifikasi identitas berlangsung lebih cepat, antrean dapat ditekan, dan waktu tunggu di area boarding menjadi lebih singkat, sehingga perjalanan terasa lebih tertib dan nyaman.
Pemanfaatan layanan ini juga berdampak pada efisiensi pengelolaan sumber daya. Boarding tanpa tiket cetak mengurangi kebutuhan penggunaan kertas. Dengan asumsi 1 roll kertas sepanjang 7.200 cm dapat mencetak sekitar 400 tiket, serta harga Rp14.765 per roll, biaya pencetakan setara sekitar Rp37 per tiket.
Berdasarkan perhitungan tersebut, penggunaan face recognition oleh 890.165 pelanggan selama Januari 2026 berpotensi menghemat biaya pencetakan tiket hingga sekitar Rp32,9 juta dalam ekuivalen penggunaan kertas dan material pendukung. Efisiensi ini sejalan dengan upaya KAI dalam mengelola operasional secara lebih efektif dan bertanggung jawab.
Pengurangan penggunaan kertas juga berkontribusi pada penurunan kebutuhan bahan baku dan distribusi logistik, sehingga mendukung upaya pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Digitalisasi layanan boarding menjadi bagian dari strategi KAI dalam menghadirkan layanan transportasi publik yang modern dan ramah lingkungan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa pengembangan face recognition berangkat dari kebutuhan pelanggan akan layanan yang semakin praktis dan nyaman.
“Bagi pelanggan, face recognition memberikan kemudahan karena proses boarding menjadi lebih cepat dan sederhana. Dari sisi KAI, layanan ini membantu kami menjaga kelancaran operasional sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” ujar Anne.
Anne menambahkan, menjelang mudik Lebaran, pemanfaatan face recognition akan semakin membantu pelanggan dalam mengoptimalkan waktu perjalanan.
“Kami mengajak pelanggan untuk memanfaatkan fasilitas ini agar proses boarding berjalan lebih lancar dan perjalanan dapat dinikmati dengan lebih nyaman,” tutup Anne. (Mut/Syam)