Penerbangan ke Timur Tengah Normal, Qatar, Etihad dan Emirat Masih Layani ke Denpasar dan Soetta
Selasa, 17 Maret 2026, 23:37 WIB
BISNISNEWS.id - Menyusul memanasanya perang Iran dan Israel bersama sekutunya Amerika, tidak sepenuhnya berdampak kepada penerbangan sipil di kawasan Timur Tengah, seperti banyak beredar khabar belakangan ini yang menyebutkan dihentikannya seluruh penerbangan internasional.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dalam keterangan resminya Selasa. (17/3/2026) menegaskan bahwa berita dihentikannya penerbangan ke kawasan Timur Tengah tersebut tidak benar.
Penegasan itu juga diperkuat oleh Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro yang menyebutkan, pelayanan penerbangan internasional ke sejumlah negara di Timur Tengah tetap berjalan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa dalam keterangannya menegaskan, pihaknya terus memantau secara intensif perkembangan operasional penerbangan internasional yang terdampak dinamika situasi di kawasan Timur Tengah, serta memastikan penanganan penumpang berjalan dengan baik, aman, dan terkoordinasi.
Lukman menjelaskan, hingga 17 Maret 2026 pukul 10.30 WIB, terdapat dua pesawat yang masih berstatus stranded di Indonesia, masing-masing satu unit di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dan satu unit di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, yang keduanya dioperasikan oleh Qatar Airways.
Seiring dengan mulai dibukanya kembali wilayah udara Uni Emirat Arab, sejumlah maskapai telah mengoperasikan penerbangan secara terbatas.
Emirates, ungkap Lukman, telah melaksanakan penerbangan terbatas dari dan menuju Jakarta dan Denpasar.
Namun demikian, operasional sempat terdampak oleh gangguan pada fasilitas fuel farm di Bandar Udara Dubai pada 16 Maret 2026 yang menyebabkan keterlambatan dan penyesuaian jadwal penerbangan.
Penanganan penumpang terdampak terus dilakukan, termasuk melalui pengangkutan penumpang stranded secara bertahap.
Maskapai Etihad Airways juga telah mengoperasikan penerbangan terbatas dan merencanakan peningkatan frekuensi penerbangan sebagai bagian dari langkah kontinjensi, khususnya untuk rute Jakarta dan Denpasar menuju Abu Dhabi.
Sementara itu, Qatar Airways telah melaksanakan penerbangan repatriasi sejak 8 Maret 2026 dan secara bertahap membuka kembali layanan penerbangan terbatas dari Jakarta.
Penanganan penumpang terdampak, termasuk jemaah umrah, telah dilakukan melalui mekanisme pengembalian dana, penjadwalan ulang, maupun pengalihan ke maskapai lain.
Per tanggal 16 Maret 2026, tidak terdapat lagi penumpang stranded di Jeddah yang ditangani oleh Qatar Airways.
Di sisi lain, sejumlah maskapai yang melayani penerbangan langsung ke Arab Saudi seperti Saudi Arabian Airlines, Garuda Indonesia, Lion Air, dan Flyadeal tetap beroperasi normal dan tidak terdampak konflik.
Selain itu, penerbangan tidak langsung melalui negara ketiga yang dioperasikan oleh berbagai maskapai internasional juga telah kembali berjalan normal dan siap mengakomodasi kebutuhan perjalanan penumpang.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, ungkap Lukman akan terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk otoritas penerbangan sipil, operator bandara, dan maskapai, guna memastikan kelancaran operasional penerbangan serta memberikan perlindungan dan pelayanan optimal kepada seluruh penumpang.
Masyarakat diimbau untuk senantiasa memantau informasi resmi dari maskapai dan otoritas terkait serta menyesuaikan rencana perjalanan sesuai dengan perkembangan situasi terkini.
Pada sisi lain Setio juga mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah melayani pemanduan navigasi udara terhadap 30 penerbangan internasional, terutama ke Timur Tengah. (Syam)