Evaluasi Nataru dan Persiapan Mudik Lebaran
Minggu, 12 Januari 2020, 06:08 WIB
BisnisNews.id -- Kegiatan mudik di masa libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 (Nataru) relatif lancar, walau ada beberapa catatan penting yang harus diselesaikan sebelum musim Mudik Lebaran 2020 tiba. Kecelakaan Bus PO Sriwijaya yang dianggap menonjol dalam hal kecelakaan lalu lintas.
Hasil Survei Potensi Pemudik pada Masa Libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Perhubungan Kementerian Perhubungan (Desember 2019), menyebutkan 60% pemudik berasal dari Wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Sebanyak 70% pemudik bergerak menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogakarta dan Jawa Timur.
Sebanyak 68.9 persen melewati rute Cikampek-Cipali-Cirebon, 9,3 persen melewati rute Cikampek-Cipularang-Bandung-Tasikmalaya, 7,3 persen ke arah Merak dan tidak ada rute yang merepresentasikan sebanyak 14,3 persen.
Pilihan moda untuk mudik, terbanyak menggunakan kendaraan pribadi sebesar 48 persen. Berikutnya pemudik memilih pesawat 24 persen, kereta 15 persen, bus 8 persen, sepeda motor 2 persen, mobil sewa atau travel 2 persen dan kapal (laut dan sungai, danau dan penyeberangan) 1 persen. Untuk mudik Nataru, pemudik yang menggunakan sepeda motor memang tidak sebanyak mudik Lebaran.
Alasan memilih moda tersebut disebankan cepat 52 persen, nyaman 50 persen, fleksible 51 persen, aman, 28 persen, selamat 21 persen dan dapat digunakan di tempat mudik 23 persen. Sedangkan pilihan sebagai bukti keberhasilan di tanah perantauan hanya 2 persen.
Saat musim Mudik Nataru tahun ini ditandai dengan penambahan kapasitas jalan tol. Kendati baru tahap fumgsional, setifaknya dapat membantu melancarkan proses mudik yang menggnakan jalan tol. Dampaknya memang ada, penggunaan kendaraan pribadi meningkat, penggunaan pesawat terbang menurun. Selain penurunan menggunakan pesawat terbang karena faktor tarif yang dianggap tinggi oleh konsumen.
Kapasitas Jalan Tol Bertambah
Sejumlah jalan tol yang dioperasikan, seperti Tol Layang Jakarta - Cikampek (Japek) sepanjang 38 kilometer, ruas Tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang 112 kilometer, ruas Tol Pematang Panggang - Kayu Agung 77 kilometer, ruas Kayu Agung – Palembang – Betung 52,5 kilometer, sebagian ruas Tol Balikpapan – Samarinda (Samboja - Palaran 58,7 kilometer) dari panjang total 99,35 kilometer, sebagian ruas tol Manado-Bitung seksi 1 (14 kilometer) dari panjang keseluruhan 39 kilometer dan sebagian ruas Tol Pekanbaru – Dumai (Pekanbaru-Minas, 92, kilometer) dari panjang keseluruhan 131,48 kilometer. Sejumlah rest area atau Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) belum dapat beroperasi sepenuhnya, masih beroperasi temporary.
Pengoperasian fungsional tol tersebut dapat sebagai bahan evaluasi sebelum operasional komersial nantinya. Masih terjadi banjir di Tol Layang Jakarta-Cikampek dan banjir di Tol Cikampek – Palimanan (Cipali). Tol Layang Jakarta – Cikampek memang masih memerlukan proses penyempurnaan dan perapian lagi. Pembuatan parkir bay sepanjang 60 meter yang dapat menampung sekitar 10-15 kendaraan di empat lokasi terpisah. Pembuatan tangga darurat di setiap lokasi u-turn atau arah putar balik yang berjumlah 8 titik.
Penggunaan kendaraan pribadi dari Jabodetabek ke Sumatera, khususnya Bandar Lampung dan Sumatera Selatan meningkat. Hal ini disebabkan sebagian Tol Tran Sumatera ruas Bakauheni - Bandar Lampung - Palembang (366 kilometer) sudah terhubung. Sebelumnya untuk menempuh perjalanan dari Jakarta hingga Palembang memrlukan waktu hingga 15 jam. Sekarang kurang dari 7 jam sudah tiba di tujuan. Jakarta-Merak dua jam, menyebrangan menggunakan kapal penyeberangan 1 jam dan Bakauheni -Palembang 4 jam. Dengan terhubungnya Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Bandar Lampung – Palembang telah memangkas 50 persen waktu perjalanan.
Belum lagi layanan terminal penyeberangan di Merak dan Bakauheni sudah lebih nyaman. Juga kapal-kapal penyeberangan sudah lebih bersih dan tepat waktu. Makin nyamanlah perjalanan darat. Di sisi lain, konsekuensinya frekuensi penerbangan menjadi menurun ke dua tujuan, yakni Bandar Lampung dan Palembang.
Kecelakaan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) PO Sriwijaya di Pagaralam yang menewaskan 35 penumpang, cukup mengejutkan banyak pihak. Publik mempertanyakan, bagaimana pola pengawasan dan pembinaan terhadap perusahaan transportasi umum terutama PO Bus AKAP yang dilakukan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Penyelenggaraan Terminal Penumpang Tipe A sudah semakin baik. Sudah cukup banyak konstruksi bangunan Terminal penumpang Tipe A yang direhab dan pola pelayanan semakin baik.
*Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat/elm