Foto Palsu Rohingya Beredar Di Medsos Perburuk Konflik
Minggu, 03 September 2017, 14:54 WIB
Bisnisnews.id - Foto-foto menyesatkan yang mengaku berasal dari konflik di bagian utara negara bagian Rakhine, Myanmar banyak beredar di medsos dan bisa membuat situasi semakin memburuk.
Sebagian besar mengerikan dan sebagian lagi malah salah.
Ketidakpercayaan dan persaingan antara Muslim Rohingya dan mayoritas populasi Buddhis di Rakhine telah menyebabkan kekerasan komunal mematikan di masa lalu.
Rohingya telah menghadapi puluhan tahun penganiayaan di Myanmar di mana mereka ditolak kewarganegaraannya.
Inilah yang kita ketahui tentang apa yang sedang terjadi di Rakhine:
Pekan lalu, setelah tegang berminggu-minggu, militan yang menamakan dirinya Arakan Rohingya Salvation Army menyerang setidaknya 25 pos polisi.
Bentrokan dilaporkan terjadi di banyak wilayah lainnya, terkadang warga desa Rohingya bergabung dengan militan untuk melawan pasukan keamanan.
Namun, dalam banyak kasus, pasukan keamanan, yang kadang-kadang didukung oleh warga sipil Budha bersenjata, membakar desa Rohingya dan melepaskan tembakan ke penghuninya.
Menurut laporan, Komunitas Buddhis juga telah diserang dan sebagian penduduknya terbunuh.
PBB memperkirakan 40.000 orang Rohingya telah melintasi perbatasan ke Bangladesh.
Pada tanggal 29 Agustus, Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Simsek, men-tweet 4 foto, mendesak masyarakat internasional untuk menghentikan pembantaian etnis Rohingya.
Postingannya di-retweet lebih dari 1.600 kali, dan disukai oleh lebih dari 1.200 pembaca.
Tapi dia langsung dikritik keaslian foto-fotonya. Tiga hari setelah tweet-nya Simsek menghapusnya.
Foto pertama, menunjukkan sejumlah mayat yang mengapung.
Sejumlah orang Birma mengatakan bahwa mereka adalah korban Topan Nargis pada Mei 2008.
Yang lainnya mengatakan mereka korban kecelakaan perahu sungai di Myanmar.
Gambar itu muncul di beberapa situs yang tertanggal tahun lalu, menunjukkan bahwa gambar tersebut bukan dari kekerasan baru-baru ini di Rakhine.
BBC telah memastikan bahwa foto kedua, seorang wanita yang berkabung karena pria meninggal diikat di pohon, terjadi di Aceh pada bulan Juni 2003, oleh fotografer Reuters.
Foto ketiga, dua bayi yang menangis di atas tubuh ibu mereka, berasal dari Rwanda pada bulan Juli 1994.
Foto diambil oleh Albert Facelly untuk Sipa dan merupakan salah satu rangkaian foto yang memenangkan World Press Award.
Foto keempat, orang-orang yang terbenam di kanal, dapat ditemukan di sebuah situs web yang mengumpulkan dana untuk membantu korban banjir baru-baru ini di Nepal.
Foto palsu
Sekarang ada perang media sosial seputar orang Rohingya sebagai cerita saingan masing-masing pihak untuk mendapatkan supremasi. Tapi beberapa gambarnya jelas salah.
Awal tahun ini, ketika tim dari Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan penelitian tentang dugaan pelanggaran HAM di Rakhine, mereka menolak untuk menggunakan foto atau video yang tidak diambilnya sendiri, karena masalah otentikasi materi tersebut.
Laporan mereka memberikan rincian metodologi secara teliti.
Namun, temuan PBB tentang kekejaman luar biasa terhadap masyarakat Rohingya, dan tindakan yang dapat menyebabkan kejahatan kemanusiaan, ditolak oleh pemerintah Myanmar, yang kemudian menolak mengeluarkan visa untuk misi pencarian fakta ke Rakhine.
Tampaknya ada kekejaman yang dilakukan oleh kedua belah pihak, namun situasi bagi Rohingya, yang saat ini di bawah serangan terus berlanjut oleh pasukan keamanan dan warga sipil bersenjata, tampaknya jauh lebih buruk.
Mendapatkan gambaran yang akurat tentang apa yang terjadi, akan memakan waktu lama, mengingat betapa sedikit pengamat netral yang memiliki akses terhadap wilayah tersebut.
Tapi kampanye disinformasi media sosial sangat mungkin membuat konflik semakin buruk. (Jonathan Head/Koresponden BBC Asia Tenggara)