Okupansi Hotel Mewah di Indonesia Jadi Sorotan Para Pelaku Industri Wisata
Selasa, 12 Mei 2026, 18:35 WIB
BISNISNEWS.id - Industri pariwisata nasional memasuki fase pertumbuhan, ditandai dengan terus meningkatnya keterisian kamar atau okupansi hotel-hotel mewah di sejumlah kota besar dan destinasi utama di Indonesia.
Berdasarkan data, okupansi kamar hotel papan atas tersebut telah menyamai tingkat keterisiannya, seperti sebelum pandemi 2019.
Pemulihan ini menjadi sorotan utama dalam Indonesia Tourism Xchange 2026 (ITX 2026) yang digelar perdana hari ini (Selasa 12 Mei 2026) di The Langham, Jakarta.
Forum yang menghadirkan lebih dari 400 pemimpin industri dari sektor perhotelan, pariwisata, investasi, data, keberlanjutan, hingga real estat berlabel dagang.
Sebagai tuan rumah dan mitra, The Langham, Jakarta memberi konteks yang tepat bagi diskusi. Lokasinya di salah satu alamat paling prestisius di ibu kota menghubungkan acara dengan percakapan yang lebih luas seputar perjalanan premium, pengembangan kawasan mixed-use, dan perhotelan berbasis merek.
“Wisatawan mewah yang datang ke Indonesia bukan hanya mencari replika dari hotel global,” ujar Sherona Shng, Wakil Presiden Regional Operasional Asia, Langham Hospitality Group.
"Mereka mencari makna, konteks, dan rasa tempat. Merek yang berhasil di sini adalah yang memahami kompleksitas budaya Indonesia dan menghadirkan pengalaman yang sangat personal, bukan yang distandardisasi.”
Data STR
Okupansi hotel mewah di Indonesia kembali ke level sebelum pandemi selama 12 bulan yang berakhir Maret 2026.
Sumber: STR / CoStar menyebutkan, okupansinya saat ini melampaui kelas hotel lainnya dan menegaskan ketahanan permintaan perjalanan kelas atas.
Menurut STR, divisi analitik hotel dari CoStar Group, okupansi hotel mewah di Indonesia untuk 12 bulan yang berakhir Maret 2026 telah kembali ke level sebelum pandemi. Angka ini mengungguli semua kelas hotel lain yang masih tertinggal 5,5 poin persentase.
Tarif hotel Indonesia juga naik lebih dari 40 persen sejak 2019. Kenaikan didorong oleh pasar yang semakin matang dan masuknya pasokan hotel kelas atas baru.
Sejak 2023, hotel mewah memimpin pertumbuhan rata-rata tarif harian. Di Bali, segmen mewah terus mencatat pertumbuhan tarif kuat berkat permintaan internasional dan diversifikasi pasar asal.
Branded Residence Bali Melesat
Hunian bermerek telah tumbuh pesat di seluruh Asia, dengan Bali saat ini menyumbang 25 persen dari nilai pasar hunian bermerek di Indonesia. Sumber: C9 Hotelworks Market Research, 2026
Seiring pulihnya perjalanan mewah, ITX 2026 menyoroti lonjakan branded residence di Bali. Riset C9 Hotelworks mencatat pipeline branded residence Asia telah mencapai Rp707 triliun atau sekitar 40 miliar dolar AS untuk 50.025 unit, tumbuh 30,3 persen secara tahunan.
Indonesia berkontribusi Rp24,7 triliun atau sekitar 1,4 miliar dolar AS untuk 1.145 unit yang sudah diluncurkan.
Bali, kini menjadi pasar utama, menyumbang 25 persen nilai pasar branded residence Indonesia. Pulau ini memiliki lebih dari 70 pengembangan aktif yang dikelola perhotelan, dengan branded residence mengambil porsi sekitar 10 persen dari total pasokan aktif. Klaster terbesar ada di Canggu/Berawa dengan 1.703 unit di 25 properti, disusul Uluwatu, Seseh/Pererenan/Nyanyi, Seminyak, dan Sanur.
ITX 2026
ITX 2026 diorganisir oleh Horwath HTL, C9 Hotelworks, STR, QUO Global, Greenview, dan Delivering Asia, bermitra dengan Langham Hospitality Group. Acara ini didukung PHRI, Jakarta Hotels Association, dan Bali Hotels Association.
Mengusung tema “Reimagining Journeys”, forum membahas evolusi pariwisata Indonesia menjawab permintaan layanan mewah, kinerja hotel, branded residence, tren investasi, desain, teknologi, dan keberlanjutan.
Program dibuka dengan sesi prospek investasi 2026 oleh Douglas E. Ramage, Managing Director BowerGroupAsia Indonesia. Jesper Palmqvist, Wakil Presiden Regional Asia Pacific STR, bersama Erastus Radjimin, Founder dan CEO ARTOTEL Group, mengupas cara mengubah wawasan pasar menjadi aksi.
Sesi khusus branded residence dipandu Bill Barnett, Managing Director C9 Hotelworks, menghadirkan pembicara dari Harmoni Bali, Marriott International, dan Langham Hospitality Group.
“Residensi bermerek bukan lagi produk sekunder di Indonesia. Mereka menjadi pendorong utama permintaan properti mewah,” kata Bill Barnett.
“Yang membuat Indonesia menarik adalah perpaduan kepercayaan pada merek, daya tarik destinasi, serta aspirasi gaya hidup. Tantangannya adalah menyelaraskan elemen tersebut di pasar yang beragam, terfragmentasi, dan bernuansa budaya.”
“Peluang Indonesia bukan sekadar pertumbuhan. Ini pertumbuhan yang cerdas,” tambah Matt Gebbie, Direktur Pacific Asia, Horwath HTL.
Dikayakan, “hotel mewah menghadapi ekspektasi lebih tinggi dalam kinerja, imbal hasil modal, dan diferensiasi. Memahami destinasi, segmen, dan konsep yang benar-benar berkinerja pada 2026 dan setelahnya kini menjadi krusial bagi investor maupun operator.”
Sesi lain membahas teknologi perhotelan, kepemimpinan, desain berakar budaya, strategi kepemilikan, dan keberlanjutan.
Kontributornya antara lain ZUZU Hospitality, Mylighthouse, Plataran Indonesia, QUO Global, Banyan Group, Potato Head, THE 101 Hotels & Resorts, Amaroossa Hotels, Wyndham Tamansari Jivva Resort Bali, dan Greenview. (Syam)