Penutupan Bandara Berdampak Buruk Terhadap Arus Ekspor - Impor,
Senin, 07 September 2026, 20:50 WIB
BISNISNEWS.id - Penutupan sejumlah bandara akibat sebaran abu vulkanik erupsi anak Gunung Krakatau berdampak buruk terhadap arus ekspor - impor.
Di bandara Soekarno, potensi oenundaan arus ekspor -impor diprediksi mencapai 168 juta dolar AS.
Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan penutupan bandara, pengalihan penerbangan dan, perubahan jadwal, berdampak langsung pada penumpukan kargo.
Dampaknya dapat menjalar ke kegiatan produksi dan perdagangan, terutama jika mengenai jaringan yang terhubung dengan Bandara Soekarno–Hatta sebagai pintu utama pengiriman barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu.
Pada 2025, nilai ekspor nonmigas melalui Soekarno–Hatta mencapai 9,90 miliar dolar AS dan impor 20,77 miliar dolar AS. Nilai indikatif arus perdagangan bruto tersebut mencapai 30,67 miliar dolar AS setahun atau rata-rata 84,03 juta dolar AS per hari.
Volume impor mencapai 174,9 ribu ton setahun atau rata-rata 479 ton per hari. Angka tersebut mengacu pada data BPS dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, dengan data ekspor 2025 berstatus revisi.
Setijadi menjelaskan gangguan penerbangan selama delapan jam berpotensi menunda arus ekspor-impor sekitar 28 juta dolar AS terdiri atas ekspor 9,04 juta dolar AS dan impor 18,97 juta dolar AS, termasuk hampir 160 ton barang impor.
Jika gangguan berlangsung selama 48 jam, nilai indikatif barang yang berpotensi tertunda meningkat menjadi sekitar 168 juta dolar AS , terdiri atas ekspor 54,23 juta dolar AS dan impor 113,83 juta dolar AS termasuk sekitar 960 ton barang impor.
Perhitungan tersebut hanya mencakup perdagangan internasional melalui Soekarno–Hatta, belum termasuk pengiriman domestik, dan bukan estimasi kerugian langsung.
Ekspor menggunakan nilai FOB, sedangkan impor menggunakan nilai CIF; kerugian aktual bergantung pada pembatalan penerbangan, pengalihan kargo, karakteristik komoditas, dan waktu pemulihan operasi.
Rekomendasi Solusi
SCI merekomendasikan solusi dalam jangka pendek, yaitu pengelola bandara, maskapai, freight forwarder, Bea dan Cukai, karantina, serta pemilik barang perlu mengaktifkan koordinasi tanggap darurat.
Prioritasnya meliputi pemantauan sebaran abu secara real-time, penjadwalan ulang penerbangan, penyediaan kapasitas tambahan, percepatan penanganan dokumen, dan pengalihan kargo melalui bandara alternatif.
Barang mudah rusak, farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres perlu mendapatkan prioritas. Pengiriman domestik dapat dialihkan ke moda darat, kereta api, laut, atau jaringan multimoda.
Dalam jangka panjang, perusahaan perlu membangun rencana kontinuitas bisnis berdasarkan beberapa skenario durasi gangguan, menetapkan bandara dan moda alternatif, serta memiliki kontrak kapasitas cadangan dengan penyedia jasa logistik.
Importir perlu menyesuaikan persediaan pengaman untuk bahan baku kritis, sedangkan eksportir perlu menyiapkan gudang dan fasilitas rantai dingin alternatif. (Syam)