PT Jasa Marga (Persero) Tbk (“Perseroan”) Mencatat Pertumbuhan Positif Dengan Perolehan Laba Rp1,91 T,
Rabu, 09 September 2026, 18:55 WIB
BISNISNEWS.id - PT Jasa Marga (Persero) Tbk (“Perseroan”) mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan kinerja sepanjang Semester I 2026.
Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,31 triliun, tumbuh 7,6 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pendapatan tol sebesar Rp9,5 triliun (naik 6,8% yoy) dan pendapatan usaha lain sebesar Rp798,2 miliar (melonjak 17,6% yoy).
Capaian kunerja tersebut disampaikan dalam gelaran Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia secara daring pada
Rabu (09/09/2026).
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan, fundamental yang sehat memberikan ruang gerak bagi Perseroan untuk melanjutkan pengembangan
bisnis secara prudent sekaligus menangkap peluang pertumbuhan baru.
“Kami melihat prospek bisnis Jasa Marga ke depan tetap positif. Dengan fundamental bisnis dan kondisi financial yang sehat, menjadi fondasi yang kuat untuk terus mengoptimalkan portofolio aset, sekaligus mencetak pertumbuhan nilai yang berkelanjutan (value creation),” ujar Rivan.
Fundamental pendapatan Perseroan ditopang oleh arus kas operasi yang solid. Hal ini memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang dan memperkuat ketahanan likuiditas Perseroan dalam menghadapi dinamika makroekonomi. Bukti dari ketahanan tersebut terlihat dari kinerja Jasa Marga hingga Semester I/2026.
Pertumbuhan top-line tersebut terkonversi positif ke pos profitabilitas, ditandai oleh EBITDA perseroan naik 8,1 persen (yoy) menjadi Rp6,99 triliun, dengan EBITDA margin tetap terjaga pada level 67,8 persen, dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,91 triliun, tumbuh 2,0 persen (yoy). Profil risiko utang pun tetap terkendali secara prudent, tecermin dari Gearing ratio tercatat pada level 1, dengan Interest Coverage Ratio (ICR) tumbuh menjadi 3,9 kali, yang menunjukkan kapasitas Perseroan untuk menjaga kewajiban finansial sekaligus mempertahankan
ruang untuk melanjutkan agenda investasi strategis dan pengembangan bisnis.
Selain itu, salah satu kekuatan utama Jasa Marga terletak pada skala jaringan yang dimiliki. Hingga 30 Juni 2026, Perseroan memiliki 36 konsesi dengan total panjang 1.736 km dan telah mengoperasikan sekitar 1.294 km jalan tol yang merepresentasikan sekitar 42 persen dari total jalan tol yang beroperasi di Indonesia.
Skala tersebut memberikan basis bagi Jasa Marga untuk mengelola jaringan sebagai satu kesatuan portofolio dan network yang saling terhubung. Pendekatan ini membuka peluang bagi Perseroan untuk meningkatkan utilisasi jaringan sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi pada koridor-koridor yang dilalui.
“Kami melihat jaringan jalan tol sebagai sebuah network dengan value besar saat dikelola secara terintegrasi, yang dapat memperkuat hubungan antara pusat aktivitas
ekonomi, kawasan industri, simpul logistik, maupun destinasi wisata, sehingga menciptakan peluang pertumbuhan baru di sepanjang jaringan,” ujar Rivan.
Nilai Ekonomi
Sejalan dengan optimalisasi portofolio, Jasa Marga terus memperluas sumber pertumbuhan melalui pengembangan ekosistem di sepanjang koridor jalan tol.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk membentuk new value pools dari aset dan koridor yang dimiliki.
Salah satu bentuk pengembangan ekosistem tersebut adalah transformasi Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) melalui Travoy Rest. Bagi Perseroan, pengembangan
rest area merupakan bagian dari upaya memperluas fungsi koridor jalan tol.
Selain mendukung kebutuhan perjalanan, keberadaan rest area dapat menjadi ruang bagi aktivitas ekonomi, termasuk memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM dan produk lokal.
Perseroan juga mengembangkan sejumlah lini bisnis prospektif di luar bisnis utama seperti building management, advertising dan utilitas, serta pengembangan Transit Oriented Development (TOD) dan Toll Corridor Development (TCD).
“Kami melihat setiap bagian dari koridor jalan tol memiliki potensi untuk menciptakan nilai. Rest area, misalnya, tidak hanya kami lihat sebagai fasilitas pendukung
perjalanan, tetapi juga sebagai ruang yang dapat mempertemukan kebutuhan pengguna dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Pendekatan seperti ini yang terus kami kembangkan dalam membangun ekosistem jalan tol,” jelas Rivan. (Syam)