Pemerintah Kucurkan Rp.8,5 Triliun Untuk Pengadaan 35 Rangkaian Kereta Baru Ditargetkan Rampung 2027
Rabu, 28 Oktober 2026, 13:29 WIB
BISNISNEWS.id - Penugasan pemerintah Kepada PT KAI untuk pengadaan 35 rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) pada 2023 ditargetkan sudah rampung pada 2027.
Dalam pengadaan itu, pemerintah telah menngalokasikan anggaran sebagai penyertaan modal negara (PMN) yang pembayarannya dikucurkan secara bertahap.
Yakni pada 2023 dikucurkan sebesar Rp.3,2 triliun, selanjurtnya pada 2024 dikucurkan sebesar Rp. 2 triliun, pada 2025 sebesar Rp.1,8 triliun, dan tahun 2026 Kembali dikucurkan sebesar 1,5 triliun.
Pengadaan 35 rangkaian kereta baru tersebut diharapkan dapat memenuhi pelayanan kepada masyarakat dengan kapasitas angkut yang lebih Besar.
Dari 35 rangkaian tersebut, PT KAI menyerahkan Kepada perusahaan China sebanyak 11 rangkaian untuk 12 gerbong per rangkaian dan sudah selesai tahun 2025.
Sedangkan PT INKA mendapatkan 16 rangkaian kereta. Dari jumlah itu, sebanyak tujiuh rangkaian sudah beroperasi pada awal 2026, sisanyanya sebanyak sembilan rangkaian, Dua diantaranya sudah delivery namun belum dioperasikan PT KAI.
PT INKA Masih harus menyelesaikan tujuh rangkaian yang belum tuntas dan ditargetkan harus sudah selesai pada 2027.
Dari total 35 rangkaian kereta, masih tersisa delapan rangkaian, yang oleh PT KAI hingga kini belum menunjuk, kepada siapa pembangunan kereta tersebut diberikan. Sebelumnya santer terdengar, PT KAI akan menyerahkannya kepada PT INKA.
KRL TUA
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, saat ini masih ada 90 sampai 100 rangkaian atau sekitar 1.088 unit kereta yang usianyna sudah melebihi 30 tahun.
Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Ir. Allan Tandiono menegaskan,
rangkaian kereta tua itu idealnya dimusiumkan alias di recall diganti dengan kereta yang baru.
" Pastinya, kalau kereta yang baru itu, se;lain keretanya lebih luas, lebih aman, nyaman dan Sejuk, keti,bang kereta kereta tua yang meskipun Masih etap terjaga kelaikannya, sudah pasti sering sakit-sakoitan dan biaya perawatan ya juga tinggi," kata Dirjen Allan Tandiono.
Menurut Dirjen Allan, kereta baru, pembuatannya disesuaikan dengan kebutuhan fasilitas prasaana yang sudah ada.
Dirjen Allan mengilustrasikan, untuk pengadaan kereta baru itu sama seperti bila kota memesan jas baru di desainer. Sang desainer jas akan membuat jas disesuaikan dengan badan si pemesan.
" Akan jauh lebih bagus pengad aan kereta baru, ketimbang kereta bekas," jelas Allan.
PT KAI sendiri, ungkap Dirjen Allan, memiliki kecukupan modal untuk pengadaan kereta baru. Sebab, anggaran untuk program PSO- Dari Kemenhub setiap tajhunnya lebih Dari Rp 2 triliun.
" Kalau mau mengadakan kereta sendiri, PT KAI sudah cukup mampu," jelasnya. (Syam)