Rabu, 18 Oktober 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Internasional / / Berita

UNI EROPA
Senin, 19 Juni 2017 16:42 WIB

Tertunda Lama, Negosiasi Brexit Akhirnya Dimulai


Anggota protokol mengubah bendera Uni Eropa dan Inggris sebelum kedatangan Negosiator Brexit Michel Barnier dan Menlu Inggris David Davis di markas besar Uni Eropa, Brussels, 19 Juni 2017. (AP Photo/Virginia Mayo)

Bisnisnews.id - Setelah hampir setahun, akhirnya Inggris pada hari Senin 19 juni 2016 membuka negosiasi dengan Uni Eropa (UE) tentang rencana meninggalkan blok tersebut yang dijadwalkan pada 2019, yng hasil akhirnya tidak dapat diprediksi.

Tim perunding UE yang dipimpin oleh Michel Barnier telah siap berbulan-bulan, Inggris sempat terhenti prosesnya dua tahun pada 29 Maret. Pada pemilihan awal bulan ini, di mana Perdana Menteri Theresa May kehilangan mayoritas malah menambahkan masalah.

"Masalah besar kami adalah kami tidak memiliki gambaran, tidak tahu sama sekali apa yang Inggris inginkan," kata Manfred Weber dari Jerman, ketua kelompok EPP dari Demokrat. "Negara-negara Uni Eropa lainnya bersatu, namun Inggris dalam kekacauan," katanya dikutip dari Associated Press.

Pemerintah May menyatakan bahwa pihaknya yakin dapat mencapai kesepakatan untuk kepentingan seluruh Inggris." Uni Eropa mengatakan bahwa pihaknya juga mencari kompromi terbaik.

Menteri Luar Negeri Austria, Sebastian Kurz mengatakan, "Jika kita tidak berhasil, kedua belah pihak akan kalah."

Negosiator Inggris, David Davis dan dari Uni Eropa, Barnier memiliki satu isu penting selama minggu-minggu pertama perundingan yaitu membangun kepercayaan setelah berbulan-bulan tawar menawar mengenai jumlah tagihan akhir yang harus dibayar Inggris untuk bisa keluar EU

Setelah referendum 23 Juni 2016 untuk meninggalkan EU, 27 negara lainnya juga ingin memulai perundingan keluar sesegera mungkin sehingga mereka bisa bekerja untuk masa depan mereka sendiri, namun Inggris tampak linglung oleh langkahnya sendiri. Citra Inggris menjadi disfungsional saat berhadapan dengan negosiator UE yang jauh lebih siap.

Namun, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson tetap optimis hari ini dan berpikir bahwa perundingan Brexit akan menghasilkan sebuah resolusi dengan keuntungan dan kehormatan bagi kedua belah pihak.

Johnson meminta orang untuk melihat masa depan lebih jauh. Pada pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Luksemburg dia berkata, "Dalam jangka panjang, ini akan bagus untuk Inggris dan bagus untuk seluruh Eropa." (marloft)


Baca Juga

 

Internasional  -  Rabu, 18 Oktober 2017
Serangan Mematikan  "Drone"  di Pakistan, 26 Pejuang Taliban Tewas

Bisnisnews.id-Serangan pesawat tanpa awak milik Amerika di sebuah kompleks yang digunakan oleh jaringan Haqqani yang bermarkas di Taliban menimbulkan banyak korban. Selasa sore (17/10/2017) dilaporkan, tercatat 26 orang tewas. Serangan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Rabu, 18 Oktober 2017
PENDAPATAN NEGARA
Pariwisata Penyumbang Devisa Terbesar di 2019

Bisnisnews.id-Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sektor pariwisata Indonesia diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar pada 2019 dengan nilai mencapai 24 miliar dolar AS melampaui sektor migas dan minyak kelapa sawit . . .
Selengkapnya

 

Metropolitan  -  Rabu, 18 Oktober 2017
Gaya "Unik" Sandiaga Uno di Acara Syukuran  ....

Bisnisnews.id-Keunikan yang dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno dalam acara Selametan Jakarta, saat dirinya sengaja mencopot satu per satu atribut pakaian dinas upacara (PDU) yang dikenakannya. Kemudian Sandi memberikan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Selasa, 17 Oktober 2017
TOL LAUT
KM Sabuk Nusantara 93 Milik Ditjen Hubla Diluncurkan

Bisnisnews.id-Steadfast Marine  selesaikan pembangunan kapal perintis ke tujuh dari 13 kapal pesanan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. Masing-masing type 1200 GT  dan 2000 GT dengan total . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 17 Oktober 2017
RETORIKA
Korut : Perang Rudal Dapat Dimulai Kapan Saja

Bisnisnews.id - Wakil Duta Besar PBB untuk Korea Utara memperingatkan Senin 16 Oktober bahwa situasi di semenanjung Korea telah mencapai titik sentuh dan perang nuklir dapat terjadi kapan saja. Kim In-ryong mengatakan kepada . . .
Selengkapnya