Kamis, 23 November 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Regulasi / / Berita

KEBIJAKAN PEMERINTAH
Senin, 17 Juli 2017 18:47 WIB

Diblokir, Telegram Hapus Konten Teroris



Bisnisnews.id - Pendiri Telegram, Pavel Durov mengatakan bahwa perusahaan tersebut akan membuat tim moderator untuk menghapus konten yang berhubungan dengan teroris karena kekhawatiran terhadap propaganda ISIS.

Telegram akan membuat tim moderator untuk menghapus konten yang terkait dengan teroris di Indonesia, kata Pavel Durov pada hari Minggu (16/7/2017), setelah pemerintah mengancam memblokir aplikasi pesan terenkripsi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan pada hari Jumat (14/7/2017) bahwa mereka akan memblokir akses ke Telegram jika perusahaan tersebut tidak mengembangkan prosedur untuk menghapus konten ilegal dari salurannya, yang menunjukkan kekhawatiran bahwa aplikasi tersebut digunakan untuk menyebarkan propaganda radikal dan teroris. Sebagai langkah awal, Kominfo memerintahkan penyedia layanan untuk memblokir akses ke Telegram versi web.

Pada hari Minggu (16/7/2017), Durov mengatakan bahwa Telegram telah memblokir saluran yang dilaporkan oleh pemerintah, dan perusahaan tersebut akan mengambil langkah tambahan untuk menghapus konten ilegal.

"Kami membentuk tim moderator yang berdedikasi dengan pengetahuan tentang budaya dan bahasa Indonesia untuk dapat memproses laporan tentang konten yang berhubungan dengan teroris, lebih cepat dan akurat," kata Durov seperti dikutip Associated Press.

Telegram telah menghadapi kritik dari otoritas pemerintah di seluruh dunia karena telah menyediakan platform terenkripsi yang menjadi aplikasi pilihan bagi para teroris. Durov secara terbuka menolak otoritas untuk mengakses pesan terenkripsi, dengan mengatakan bahwa mereka akan merusak privasi dan keamanan bagi jutaan pengguna.

"Telegram sangat terenkripsi dan berorientasi pada privasi, tapi kami bukan teman teroris. Sebenarnya, setiap bulan kami memblokir ribuan saluran publik yang terkait dengan ISIS," tambah Durov menurut The Wall Street Journal.

Polisi di Indonesia mengatakan bahwa tersangka militan telah mengaku menggunakan Telegram untuk mengkoordinasikan rencana serangan dan bahwa platform tersebut digunakan untuk membagikan instruksi pembuatan bom juga.

Pejabat di seluruh Asia Tenggara telah menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya kehadiran milisi yang berafiliasi dengan ISIS, setelah sebuah kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan ISIS merebut kota Marawi di Filipina pada bulan Mei. (marloft)

Baca Juga

 

Internasional  -  Kamis, 23 November 2017
CANBERRA
Paksa Pengungsi Pergi, Polisi PNG Masuki Kamp Manus

Bisnisnews.id - Polisi Papua Nugini masuk ke kamp pengungsian yang dikelola oleh Australia pada hari Kamis 23 November dan memaksa ratusan orang meninggalkan pusat penahanan di pulau tersebut. Pencari suaka, yang telah dibarikade . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
KECELAKAAN
Delapan Selamat Setelah Pesawat AL AS Jatuh DI Laut Jepang

Bisnisnews.id - Tim penyelamat telah menyelamatkan delapan orang ke tempat yang aman di selatan Jepang setelah sebuah pesawat Angkatan Laut AS dengan 11 orang di kapal jatuh di Laut Filipina. Pasukan Jepang dan Amerika bergegas . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
TERORIS
Pakistan Bebaskan Dalang Serangan Mumbai

Bisnisnews.id - Pengadilan Pakistan pada hari Rabu 22 November memerintahkan pembebasan salah satu dalang dugaan serangan Mumbai 2008 yang menewaskan lebih dari 160 orang, setelah berbulan-bulan AS menekan Islamabad atas dugaan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
ZIMBABWE
Mugabe Keluar, Buaya Pulang Ambil Alih

Bisnisnews.id - Wakil presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa akan terbang pulang pada hari Rabu 22 November untuk mengambil alih kekuasaan setelah pengunduran diri Robert Mugabe yang mengakhiri masa pemerintahan 37 tahun yang otoriter. Dia . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Rabu, 22 November 2017
SERBIA
Dipenjara Seumur Hidup, Penjagal Bosnia Dinyatakan Bersalah Atas Genosida

Bisnisnews.id - Juri PBB pada hari Rabu 22 November menghukum mantan komandan Serbia Bosnia, Ratko Mladic untuk menjalani hukuman penjara seumur hidup setelah menemukannya bersalah melakukan genosida dan kejahatan perang dalam . . .
Selengkapnya