Selasa, 19 September 2017

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Industri / Perbankan / Berita

PENDANAAN TERORISME
Jumat, 11 Agustus 2017 16:10 WIB

Regulator Selidiki Bank Terbesar Australia



Bisnisnews.id - Regulator perusahaan Australia mengatakan pada hari Jumat 11 Agustus 2017 bahwa pihaknya akan menyelidiki bank terbesar di negara itu, Bank Commonwealth, terkait dugaan pelanggaran undang-undang pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Bank Commonwealth Australia (CBA) telah dibawa ke pengadilan dalam kasus perdata minggu lalu oleh badan intelijen keuangan AUSTRAC atas ketidakpatuhan sistemik secara serius lebih dari 53 ribu kali.

Sekarang regulator Komisi Keamanan Investasi Australia (ASIC) mengatakan sedang menyelidiki apakah bank tersebut mematuhi kewajiban pengungkapan terus menerus dan apakah direksi menjalankan tugasnya berdasarkan Undang-undang Korporasi.

"ASIC telah memulai penyelidikan atas masalah ini dan segala konsekuensi yang terjadi pada hukum yang kami kelola," kata ketua ASIC Greg Medcraft kepada sebuah sidang komite parlemen.

Meskipun tidak secara khusus mengacu pada Bank Commonwealth, Medcraft menekankan pentingnya budaya organisasi di perusahaan jasa keuangan.

"Jika organisasi tidak berperilaku dengan cara yang benar, maka publik dan media yang akan memberitahu, berdampak pada merek dan reputasi mereka," katanya.

Gubernur Bank Reserve Australia, Philip Lowe, memperingatkan komite ekonomi Senat terpisah di Melbourne bahwa perlu ada pertanggungjawaban di sektor keuangan.

"Ini sangat serius. Kami memiliki undang-undang dengan alasan, bank tidak boleh melakukan pencucian uang dan mereka harus tahu siapa yang membuka rekening mereka," katanya dikutip dari Sydney Morning Herald.

"Jika tidak diidentifikasi maka perlu ada pertanggungjawaban melalui pengadilan dan internal melalui organisasi."

Bank Commonwealth bisa menghadapi denda hingga miliaran dolar dari kasus AUSTRAC. Bank ini pada hari Rabu (9/8/2017) membukukan kenaikan laba bersih tahunan 7,6 persen menjadi 7,86 miliar dolar untuk kuartal pertama. (marloft)

Baca Juga

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
SIDANG PBB 72
Buka Sidang, Sekjen PBB Angkat Isu Korut Dan Myanmar

Bisnisnews.id - Kecemasan global tentang perang nuklir berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada hari Selasa 19 September saat ia membuka pertemuan para pemimpin . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
PERANG RUDAL
Jepang Sebar Pencegat Rudal Di Jalur Peluncuran Korut

Bisnisnews.id - Jepang pada hari Selasa 19 September memindahkan sistem pertahanan rudal di pulau utara Hokkaido ke sebuah pangkalan dekat rute peluncuran rudal Korea Utara terakhir. Menteri Pertahanan Itsunori Onodera mengatakan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
INVESTASI ASING
Uni Eropa Peringatkan China : Ekonomi Terbuka Atau Tanggung Resiko

Bisnisnews.id - Kelompok bisnis mendesak China pada hari Selasa 19 September untuk melaksanakan janji-janji keterbukaan ekonominya dan memperingatkan bahwa pergerakan lamban dapat memicu reaksi balik terhadap perdagangan bebas . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
KRISIS ROHINGYA
Penyelidik PBB Tuntut Akses Penuh Tanpa Batas ke Myanmar

Bisnisnews.id - Penyelidik HAM PBB pada hari Selasa 19 September mengatakan bahwa mereka membutuhkan akses penuh dan tak terbatas ke Myanmar untuk menyelidiki krisis yang sedang berlangsung, namun pemerintah menolak penyelidikan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Selasa, 19 September 2017
KRISIS ROHINGYA
Akhirnya Angkat Bicara, Suu Kyi Tolak Kritik Dunia

Bisnisnews.id - Aung San Suu Kyi mengatakan pada hari Selasa 19 September bahwa dia tidak takut pada pengawasan dunia atas krisis Rohingya, berjanji untuk menahan pelanggar HAM dan memukimkan kembali beberapa dari 410 ribu Muslim . . .
Selengkapnya