Senin, 22 Januari 2018

Home Terbaru Terpopuler

Home/ Internasional / / Berita

KRISIS SEMENANJUNG KOREA
Rabu, 19 April 2017 03:01 WIB

Tantang Korut, Wapres AS Masuk Zona Penuh Ranjau


Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence secara mendadak mengunjungi zona demiliterisasi (DMZ) Korea yang penuh ranjau

Bisnisnews.id - Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence secara mendadak mengunjungi zona demiliterisasi (DMZ) Korea Selatan yang berbatasan langsung dengan Korea Utara, Senin (17/4/2017). Kunjungan untuk menggertak Korut bahwa AS tidak main-main untuk mengakhiri situasi panas di Semenanjung Korea akibat ulah Korut terus melakukan penembakan rudal nuklir.

Pence menyambangi DMZ yang sarat ranjau di Paju, Korea Selatan sebagai bagian dari tur di empat negara Asia, termasuk Indonesia. Kunjungan itu dilakukan sehari setelah rezim Kim Jong-un yang berkuasa di Korut menguji tembak rudal balistik, meskipun gagal.

Saat menyambangi DMZ, wakil Donald Trump itu mengatakan bahwa kesabaran strategis AS terhadap Pyongyang sudah habis. Pence, yang ayahnya bertugas dalam Perang Korea 1950-1953, mengatakan bahwa AS akan berdiri dengan “pakaian besi” untuk sekutunya, Korea Selatan. Menurutnya, Washington sedang mencari perdamaian melalui kekuatan.

"Semua opsi di atas meja untuk mencapai tujuan dan menjamin stabilitas rakyat negeri ini," katanya kepada wartawan, seperti dilansir Reuters.

Menurut Wapres Pence, Presiden AS Donald Trump telah membuat jelas bahwa dia tidak akan berbicara tentang taktik militer tertentu. "Ada periode kesabaran strategis, tapi era kesabaran strategis sudah habis," ujar Pence.

AS bersama para sekutunya sedang bekerjasama dengan China untuk mencari respons yang tepat atas uji tembak rudal balistik terbaru Korut yang gagal pada Sabtu pekan lalu. Penasihat Keamanan Nasional Presiden Trump, H.R. McMaster mengatakan, untuk saat ini Trump mempertimbangkan aksi militer, meskipun armada kapal induk tenaga nuklir USS Carl Vinson sedang berada di dekat Semenanjung Korea.

"Ini saatnya bagi kita untuk melakukan semua tindakan yang kita bisa, lebih kecil dari opsi militer untuk mencoba menyelesaikan ini dengan damai,” katanya dalam program “This Week” ABC News.

"Kami bekerja sama dengan sekutu dan mitra kami, serta dengan pemimpin China untuk mengembangkan berbagai opsi,” lanjut dia.”Ada konsensus internasional sekarang, termasuk kepemimpinan China, bahwa ini adalah situasi yang tidak bisa dilanjutkan," papar McMaster. (Gungde Ariwangsa)

Baca Juga

 

Internasional  -  Senin, 22 Januari 2018
DEMONSTRASI
PBB : Anti Presiden, Enam Tewas Di Kongo

Bisnisnews.id - Enam orang tewas di Republik Demokratik Kongo pada hari Minggu 21 Januari, kata PBB, karena pihak berwenang melarang demonstrasi terhadap Presiden Joseph Kabila. Saksi mata mengatakan pasukan keamanan melepaskan . . .
Selengkapnya

 

Industri  -  Minggu, 21 Januari 2018
PROYEK CHANGI
Singapura Kenakan Pajak Tambahan Kepada Penumpang

Bisnisnews.id - Otoritas penerbangan sipil Singapura(CAAS)  berencana akan menaikan pajak 10 -15 dolar Singapura kepada para penumpang dari dan ke bandara Changi. Dana tambahan tersebut akan digunakan untuk membiayai perluasan . . .
Selengkapnya

 

Regulasi  -  Minggu, 21 Januari 2018
REGULASI
Sertifikasi Kapal Wajib Mencantumkan Bahasa Indonesia

Bisnisnews.id - Mulai 1 Februari 2018 Sertifikat Garis Muat Kapal berbendera Indonesia yang dikeluarkan Badan Klasifikasi Nasional maupun Asing, wajib mencantumkan format berbahasa Indonesia. Direktur Perkapalan dan Kepelautan . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Minggu, 21 Januari 2018
MINYAK DUNIA
Arab Saudi Serukan Perpanjang Pemangkasan Produksi

Bisnisnews.id - Arab Saudi menyerukan hari Minggu 21 Januari untuk memperpanjang kerjasama antara produsen OPEC dan non-OPEC sampai lewat dari 2018. Seruan tersebut datang setelah harga minyak mencapai 70 dolar per barel berkat . . .
Selengkapnya

 

Internasional  -  Minggu, 21 Januari 2018
SERANGAN KABUL
Taliban Serang Hotel Intercontinental, Enam Tewas

Bisnisnews.id - Orang-orang bersenjata menyerbu sebuah hotel mewah di Kabul dan membunuh setidaknya 6 orang dalam pertempuran 12 jam yang membuat sebagian bangunan terbakar. Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan di . . .
Selengkapnya